“Masa Depan China” di Nusa Pustaka

IMG_20160726_161203_1469533945702
Prof. Stephen Lloyd Morgan (tengah) dalam diskusi bertajuk Masa Depan China di Perpustakaan dan Museum Maritim Nusa Pustaka, 26 Juli 2016. Didampingi Muhammad Farhan (moderator) dan Indah Morgan (penerjemah). Foto M Ridwan

Salah satu keunggulan sistem di China adalah mereka berinvestasi banyak pada pendidikan generasi mudanya. Demikian salah satu paparan Stephen Lloyd Morgan dalam diskusi di Perpustakaan dan Museum Nusa Pustaka, Pambusuang, 26 Juli, Selasa sore. Dia adalah Orofessor Sejarah Ekonomi China Universitas Nottingham, Inggris dan Kepala Ilmu Sosial Universitas Nottingham Ningbo, China.

Diskusi yang dihadiri mahasiswa Universita Sulawesi Barat, Universitas As Syariah Mandar, penggerak literasi Polewali Mandar dan Majene, sejarawan, serta pemerhati seni budaya Sulawesi Barat tersebut bertema Masa Depan China.
“Kegiatan diskusi ini adalah gerakan ilmiah rutin di Nusa Pustaka yang menjadikan pembicara asing sebagai narasumber. Sebelumnya sejarawan Belgia, petualang Jepang dan antropolog Jerman pernah jadi pembicara. Kali ini kita mengangkat diskusi tentang salah satu negara adidaya yang juga memiliki hubungan erat, baik Indonesia secara umum maupun Mandar secara khusus yang merentang ribuan tahun lampau,” kata Muhammad Ridwan, pengelola komunitas literasi Armada Pustaka Mandar, yang menjadi pelaksana acara.
Prof. Stephen Morgan memaparkan sejarah China sebagai negara termiskin beberapa dekade lampau, lebih miskin daripada Indonesia, tapi saat ini menjadi negara yang cukup kuat ekonominya. “China sekarang negara ekonomi menengah. Itu mereka bisa capai karena sistem pemerintahannya, yang meski ideologi komunis tapi ekonominya kapitalis. Masyarakatnya dibuat supaya selalu bahagia,” terang Stephen dalam Bahasa Inggris untuk kemudian diterjemahkan isternya berkebangsaan Indonesia, Indah Morgan.
“China sejauh ini berhasil, baik dalam ekonomi dan militer. Penduduknya lebih satu miliar. Ada kemiripan dengan Indonesia dalam hal jumlah penduduk dan wilayah luas. Tapi Indonesia tidak bisa meniru China dalam efektivitas. Alasannya, Indonesia itu ribuan pulau, sedang di China bisa dikatakan satu pulau saja. Darat luas,” jelas Prof. Stephen yang berkewarganegaraan Australia tapi menjadi guru besar di Universitas Ningbo di China.
Usai paparan Prof. Stephen, dilanjutkan dengan tanya jawab. Pertanyaan berkisar sistem perekonomian masyarakat China, pengaruh globalnya, hingga kelemahan negara yang kadang disebut Tiongkok tersebut. Acara diskusi dipandu Muhammad Farhan, dosen Universitas Sulawesi Barat. “Kegiatan ini cukup penting dan berharga kita ikuti. Pengaruh China cukup kuat. Misalnya keengganan China mengikuti hasil keputusan pengadilan PBB yang memenangkan Filipina dalam sengketa Kepulauan Spartley,” antar Farhan. “Di daerah kita pun pengaruh China dalam perekonomian sangat signifikan,” tambah Farhan.
Di akhir diskusi, Indah Morgan mengenalkan kegiatannya di luar negeri. “Di luar negeri itu ada delapan jutaan orang Indonesia. Mereka itulah yang disebut diaspora. Tersebar di banyak negara. Misalnya di tempat saya, Ningbo China, itu ada banyak orang Indonesia. Mereka kebanyakan bekerja di kegitan domestik, sebagai pembantu rumah tangga,” kata Indah Morgan yang kedatangannya ke Nusa Pustaka membawa serta dua putrinya yang masih remaja.
“Kami ini keluarga global, dulu tinggal di Australia. Suami saya orang sana, saya orang Indonesia. Kemudian kami pindah ke Inggris dan sekarang di China. Saya selalu bawa datang anak saya setiap tahun ke Indonesia supaya mereka tahu akarnya,” pungkas Indah Morgani yang aktiv mengadvokasi buruh migran di luar negeri.

 

Pelayaran ke Pulau Sagori

P_20160423_174457
Berlayar dari Desa Pambusuang Sulawesi Barat menuju Pulau Sagori Sulawesi Tenggara. Perahu Pustaka Pattingalloang diawaki tiga pelaut Mandar: Kamaq Alli, Anwar, dan Puaq Pia (23 April 2016)

Kami berlayar pulang, dari Pulau Sagori (Sulawesi Tenggara) ke Tanjung Bira (Sulawesi Selatan). Tanjung Bira hanya transit, sebagaimana Bulukumba, Makassar, dan Tanjung Lero. Tujuan akhir adalah Pambusuang, Sulawesi Barat.

Sekarang sekitar pukul 7 malam. Kami melintasi Teluk Bone. Kondisi laut malam ini cukup baik, berbeda ketika pelayaran sebaliknya, dari Tanjung Bira ke Pulau Sagori. Waktu itu saya tidak ikut, tapi menurut pelaut yang melayarkan Perahu Pustaka Pattingalloang (selanjutnya ditulis P3) dan Horst, ombak cukup besar dan angin dari arah haluan. Itu memaksa P3 ditonda oleh kapal motor yang juga menuju P. Sagori. Jika melihat tracking di GPS, memang betul ada hambatan, track yang dilalui P3 “bengkok”.

Sebagaimana pelayaran utama, yang berperan sebagai pengemudi adalah Kamaq Alli. Pelaut paling senior di antara kami. Puaq Pia dan Anwar ada di haluan, mengawasi bagian depan. Bulan gelap, praktis gelap gulita menyelimuti pelayaran P3. Senter sesekali diarahkan ke depan, siapa tahu ada batang kayu besar atau rumpon.

Saya duduk di buritan di samping Kamaq Alli, membuat tulisan ini menggunakan BlackBerry. Adapun Horst mengambil giliran istirahat, dia akan menggantikan posisi Kamaq Alli lewat tengah malam. Pelayaran ini lebih 100 km, butuh waktu lebih 12 jam. Untuk mengemudikan solo oleh satu orang mungkin bisa, tapi itu menyiksa. Kasian Kamaq Alli kalau tidak ada yang ganti. Kecuali saya, yang lain bisa jadi pengemudi meski tak ada yang asistensi di samping. Saya sih bisa juga, tapi tetap butuh pengawasan.

Mencatat “live” di lapangan menggunakan BlackBerry seingat saya terakhir saya lakukan di Ekspedisi Garis Depan Nusantara, 2009 lalu. Tapi yang paling intens mencatat “on the spot” adalah kala Ekspedisi Great Journey Mandar Jepang. Pelayaran dari Tarakan ke Sandakan Malaysia, saya cuma ikut berlayar di etape itu, tiap hari saya mencatat pakai BlackBerry. Itu pengalaman tersendiri yang mengesankan.

Berlayar malam melintas laut jarang-jarang dilakukan. Ada dua yang paling mengesankan. Pertama saat pelayaran pulang dari kegiatan berburu ikan terbang menggunakan sandeq. Itu terjadi di masa-masa awal riset saya tentang kebaharian Mandar. Kejadiannya 2001.

Begitu menegangkannya pelayaran waktu itu, bersama Kandaenna Rahma, pelaut dari Sabang Subik (beserta dua sawinya), saya sampai kencing di tempat. Pokoknya basah kuyup. Ombak besar, angin kencang. Saya tidak berani pindah tempat. Pokoknya baring di atas sandeq. Banyak kali dihempas ombak. Air seni terbilas sendiri. Tak tahan kedinginan, saya akhirnya masuk ke dalam lambung sandeq. Pertama kali dalam waktu lama di pelayaran itu. Masuk ke lambung sandeq yang dipakai berburu ikan terbang dan telurnya, siap-siap merasakan aroma ikan asing. Ya, itu bisa membuat muntah. Tapi itu saya abaikan, saya sudah tak tahan dingin. Sampai mengira akan hipotermia. Dalam lambung sudah ada satu sawi yang lelap. Meski sempit say sudah tak tahan, meringkuk dan terlelap. Bangun, kami ternyata menuju perairan Somba (lokasi penjual ikan terbang saat ini). Beberapa kilometer dari tujuan utama, Pambusuang. “Angin kencang sekali, kita Mengarah ke utara, ke Pamboang, lebih aman,” kata Kandaenna Rahma. Tiba jam empat subuh. Saya memilih turun, akan balik ke kampung lewat darat, ikut penjual ikan terbang.

Pengalaman kedua, jauh lebih beringas. Di Selat Karimata, antara Laut Cina Selatan di Utara dengan Laut Jawa di Selatan. Saat ini saya mengkoordinir pelayaran pinisi Cinta Laut dari Makassar ke Johor Malaysia. Sama, ombak besar angin kencang. Semua barang di dalam lambung perahu berhamburan. Jatuh. Untuk pertama kali saya mengenakan pelampung dalam pelayaran. Juga mabuk laut. Bukan cuma saya, tapi semua awak kapal. Tiang layar nyaris menyentuh permukaan laut. Kami semua pasrah. Mesin dimatikan, diombang-ambing ombak. Saya terlelap di koridor, capek bukan main. Syukurlah, menjelang pagi, angin reda. Kami lanjut ke Johor.

Mudah-mudahan pelayaran malam kali ini, yang melintasi atau melewati lautan Lepas, tak seperti dua kejadian di atas.

Gelap gulita mengiringi pelayaran tak berarti kami betul-betul buta. Ada Tiga parameter untuk memandu arah pelayaran. Pertama adalah kompas yang besarnya nyaris seperti piring makan, GPS dan bintang. Arah yang kami patok adala 260 derajat. Itu yang dijadikan haluan utama, menuju Tanjung Bira. Tadi diset saat baru meninggalkan Pulau Sagori.

Misal tak ada GPS dan kompas, rasi bintang “Tallu-tallu” bisa menjadi patokan. Letak rasi itu berada di barat. Jadi perhatikan saja posisi haluan kapal, apakah terus ke arah “tallu-tallu” atau tidak. Tapi harus menggunakan rasi bintang lain juga. Soalnya rasi “tallu-tallu” akan hilang pd jam tertentu. Jadi harus ada rasi pengganti. Yang masih kelihatan saat ini adalah “boyang kepang”, yang bisa jadi pedoman menentukan arah selatan. Sebenarnya msh ada beberapa rasi bintang lain, tapi waktunya kurang tepat mengganggu konsentrasi Kamaq Alli mengemudi.

:::

Sekarang lewat jam 12 malam. Pelayaran sudah memakan waktu lebih 7 jam, sudah lebih separuh. Menurut perkiraan GPS, kita akan tiba enam jam mendatang, sekitar pukul 6. Kecepatan rata-rata 5,5 knot atau kurang enam mil dalam 1 jam.

Berlayar malam, ada perlakuan khusus untuk pencahayaan di atas perahu. Cahaya intensitas tinggi mengganggu jarak pandang, khususnya bagi pengemudi dan jurubatu. Sumber cahaya atau pengadaan cahaya di atas perahu untuk hal penting-penting saja, yaitu cahaya yang bisa menjadi tanda dari jauh bahwa “di sana” (perahu yang kita gunakan) ada benda. Dengan kata lain, meski hanya setitik cahaya, awak kapal atau perahu lain bisa mengartikan bahwa di sana ada perahu lain.

Kedua adalah cahaya untuk kompas atau pedoman. Sebab arah di kompas dicek nyaris setiap menit, maka dia harus terlihat jelas oleh si jurumudi. Meski demikian, cahaya yang menimpa kompas dibuat remang-remang. Batas remang-remang adalah ketika usai melihat kompas, mata langsung bisa menyesuaikan dengan pandangan jauh. Jika mata terasa silau, atau butuh sekian detik penyesuain, berarti itu “over” cahaya. Utk pencahayaan kompas, tadi saya pasang lampu LED yang ada pada powerbank di sisi kompas. Sebab tergolong cahaya LED itu terang, agar remang-remang, saya gunakan bandana utk menutupi bagian kompas yang tak penting. Alias, yang kelihatan bagi jurumudi adalah sepertiga bagian kompas saja.

Sisanya, tak perlu ada cahaya lain. Agar tak menganggu, penggunaan senter sesekali saja. Lampu tanda di perahu pun tadi saya bungkus baju agar kerlap-kerlipnya tak mengganggu. Selainnya, sumber cahaya ada pd layar GPS dan BlackBerry ini. GPS berada di dalam lambung perahu, jadi tak mengganggu mata jurumudi. Sekalian menjadi alat penerang di dalam lambung perahu. Itu sudah cukup.

Sepertinya sudah hampir dua jam Horst menjadi jurumudi, menggantikan posisi Kamaq Alli yang saat ini sedang tidur. Mungkin satu dua jam ke depan mereka akan ganti posisi lagi. Meski Puaq Pia dan Anwar juga bisa mengemudi, untuk menjadi pengemudi utama tidak dilakukan sebab mereka bertugas sebagai jurubatu dan untuk isi bensin. Praktis mereka tak bisa istirahat lama. Istirahat pun mereka tetap waspada. Kadang mesin berbunyi dengan tanda tidak beres, itu harus segera diantisipasi.

Rasi bintang “tallu-tallu” sebagai tanda posisi Barat telah tenggelam. Saya tidak tahu jam berapa, yang jelas setengah sembilan lalu sudah mendekati horizon. Saya tadi tidur jadi tidak tahu jam berapa tak kelihatan lagi. Meski “tallu-tallu” tak bisa lagi menjadi tanda haluan, rasi bintang “boyang kepang” masih terlihat jelas di sisi kiri kapal. Posisinya berbeda dengan beberapa jam lalu, tapi sudut imajinernya tetap menunjuk arah ke Selatan. Artinya, posisi haluan masih bisa ditentukan meski tak ada “tallu-tallu”, meski tak ada kompas, meski tak ada GPS.

Pelaut dulu jelas paham menggunakan rasi bintang sebagai penunjuk arah. Pelayaran malam berhari-hari adalah alasannya. Praktis 12 jam mereka merekam ke dalam benak mereka posisi bintang dan perubahan-perubahannya. Ya, cobanya saya tidak sedang mengetik tulisan ini atau saya sdengan tidak tidur, apa yang saya lakukan (dan semua awak di atas perahu) adalah mengarahkan pandangan ke haluan, mengawasi apa yang ada di haluan dan mengamati bintang-bintang. Ini pelayaran semalam saja, yang tergolong cepat (sebab menggunakan mesin). Coba bandingkan pelayaran dulu yang paling banter kecepatannya separuh saja dengan kecepatan kami saat ini, yang berhari-hari, berminggu-minggu di lautan. Dan itu dilakukan selama bertahun-tahun. Itulah faktor utama mengapa pelaut-pelaut dulu sangat mahir menggunakan rasi bintang (dan tanda-tanda alam lain) dalam pelayaran mereka: mereka banyak sekali waktu melakukan perekaman, perenungan, perbandingan. Dan, itu dalam keadaan sunyi. Tidak ribut seperti saat ini. Berjarak sedepa, dua mesin berteriak-teriak. Jika kami bicara satu sama lain di ata perahu, kami juga teriak-teriak agar terdengar lawan bicara.

:::

Berlayar dari Tana Beru ke Makassar, Minggu 8 Mei 2016. Kami angkat sauh lewat pukul 3 dinihari. Lebih cepat lebih baik, pun cuaca mendukung. Nyaris tak ada ombak, angin “breeze” adanya, dan bisa tiba di Makassar saat masih terang. Saat P3 berlayar dari Galesong (bberapa km dr Makassar ke arah Selatan) menuju Bulukumba, tibanya sore hari. Sebab pelayaran balik saat ini menargetkan Makassar, maka harus berangkat lebih cepat. Sayangnya, mesin di sayap kanan mengalami masalah. Tadi dibongkar-bongkar, saat pasang lalu coba dinyalakan, tak hidup-hidup. Tak apa utk kondisi laut sekarang. Satu mesin yang aktif rata-rata kecepatan 5 knot, pakai 2 mesin kecepatan 6,5 knot. Hanya tambah lebih 1 knot, utk kondisi normal dan tak buru-buru, sepertinya tak signifikan. Juga, tak boros bensin.

Melintasi perairan bagian Selatan Sulawesi Selatan butuh perhatian ekstra, apalagi kalau berlayar dekat pantai. Di kawasan ini, khususnya antara Kota Bulukumba dengan Pulau Tanakeke, ribuan hektar budidaya rumput laut seakan menyegel garis pantai. Kecuali orang lokal atau nelayan pembudidaya rumput laut, yang lain tak tahu mana jalur aman menuju pantai. Jadi, kalau mau berlayar aman, jauh-jauhlah dari pantai, setidaknya 2 mil. Untung juga di GPS ada jejak tracking apa yang telah dilayari, jadi jadikan saja itu sebagai patokan kala berlayar balik.

Barusan layar dikembangkan, kecepatan bertambah, menyamai kecepatan jika menggunakan dua mesin. Hembusan angin darat, yang datang dr sisi kanan P3, membantu P3 bertambah kecepatannya.

Rute kali ini, kemungkinan didorong angin timur juga lebih besar. Kan sekarang sudah masuk musim timur, jadi angin dari arah buritan (belakang) akan mendorong kami. Beda waktu berlayar ke arah timur, angin dari depan.

Setiap pelayaran P3, saya terhitung sebagai punggawa. Tepatnya punggawa pottana (kadang diartikan juragan darat) yang sekaligus berperan sebagai punggawa posasiq (nakhoda). Sebagai punggawa posasiq, jangan dibayangkan sebagai sosok yang gagah memegang kemudi. Di pelayaran P3, kita ambil kasus saat ini, utk urusan pegang kemudi saya delegasikan ke Kamaq Alli. Saat berlayar, saya banyak berperan di “balik meja” (baca: di depan layar GPS), membantu sebagai navigator.

Yang tahu banyak soal GPS di P3 baru saya, Anwar belajar sedikit-sedikit. Dengan GPS, bisa ditentukan dengan akurat mana jalur aman dan cepat yang bs ditempuh. Kalau dekat karang atau arah menyimpang, saya memberi kode ke jurumudi. Saya bisanya pakai kata kanan dan kiri. Idealnya menyebut arah mata angin. Tapi agak susah istilah begitu bagi saya yang bukan pelaut asli. Kalau pelaut, mereka hafal mati mana barat, mana barat daya, timur, tenggara dan sebagainya. Tapi yang penting adalah pesan yang ingin saya sampaikan bisa diterjemahkan oleh si jurumudi. Atau kalau bukan kata, saya tinggal angkat tangan seperti gerakan hormat ala pasukan NAZI: tangan kanan dinaiikkan sambil menaikturunkkan sedikit dengan menunjuk arah yang akan dituju.

:::

Catatan di atas adalah catatan yang saya buat dalam pelayaran terjauh Perahu Pustaka Pattingalloang, dari Pambusuang menuju Pulau Sagori, balik laki. Total jarak tempuh lebih 1000 km. Jauh, nyaris setara 1/3 jarak Sabang – Merauke. Tak komplit catatan lapangannya, hanya fragmen-fragmen.

Pelayaran dimulai 24 April, menyusuri pesisir Teluk Mandar ke arah tenggara, menuju pesisir Sulawesi Selatan, dari utara ke selatan. Hari pertama singgah di Ujung Lero, tiba sore di sana. Keesokan harinya, 25 April, usai perbaikan sandeq Raja Laut, milik Horst, pelayaran dilanjutkan. Rencananya sih terus sampai di Makassar. Sebab terlambat berangkat, di hari kedua kami singgah di perairan Barru, beberapa kilometer sebelum Pancana. Subuh keesokan hari, 26 April pelayaran dilanjutkan sampai Makassar. Tiba sore di sana, berlabuh di area yang direklamasi, depan Pantai Losari.

Usai ikut talkshow di VE Channel dan menambah logistik di Makassar dan menyimpan sandeq Raja Laut di Pantai Barombong (tidak jadi diikutsertakan menuju Pulau Sagori sebab perbaikan di beberapa bagian belum sempurna), 27 April, Perahu Pustaka lanjut ke ujung paling selatan Pulau Sulawesi, menuju Bulukumba. Tiba menjelang maghrib, berlabuh di dekat taman kota. Agak repot menuju pantai, soalnya banyak sekali ladang rumput laut. Sejak melewati Pulau Tanakeke di Takalar, pantai-pantai di Kabupaten Takalar, Jeneponto, Bantang dan Bulukumba rawan didekati. Ya, ladang rumput laut (berupa tali yang dilintang-melintang sedemikian rupa) berbahaya, bisa merusak baling-baling. Jika laju perahu cepat saat terkait di tali ladang rumput laut, berpotensi membalikkan perahu. Jelas itu bukan hal yang diinginkan.

Di Kota Bulukumba kami disambut teman-teman komunitas baca di sana. Ada Muhammad Akbar dan Basmawati Haris serta Andhika Mappasomba. Kami dilayani dengan baik, dibantu menambah logistik. Esoknya, 28 April menuju sisi timur semenanjung Sulawesi Selatan, ke Pantai Bira. Masih Bulukumba. Pelayaran tidak memakan waktu lama. Kurang lima jam. Pantai Bira adalah tempat berlabuh terakhir sebelum menyeberangi Teluk Bone, menuju Pulau Sagori. Di Pantai Bira untuk sementara saya berpisah dengan Perahu Pustaka serta kru-krunya. Saya harus segera ke Jakarta, ikut rekaman acara Mata Najwa, Metro TV yang akan dilangsungkan esok malam, 29 April. Sebelum menuju Makassar, saya dibawa teman-teman Bulukumbu mendatangi perpustakaan Kucang Pustaka miliki Muhammad Akbar. Juga beberapa situs budaya dan sejarah di sana, termasuk tempat pembuatan perahu di Tana Beru. Itu berlangsung sampai malam. Sekira pukul 9 malam menuju Makassar menggunakan mobil ‘panter’.

Pagi 29 April terbang ke Jakarta. Saat tiba di hotel di Jakarta, disambut siaran tentang Perahu Pustaka di Liputan 6 Siang SCTV. Perahu Pustaka masuk kandidat Liputan 2 Award. Malamnya, ikut rekaman Mata Najwa bertemu Bukan Sekedar Membaca. Ikut serta sebagai pembicara di acara tersebut adalah saya, Ridwan Sururi (Kuda Pustaka), Aan Mansyur (sastrawan, aktivis literasi), Oki Mandasari (novelis, aktivis literasi), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, dan Maman Suherman (aktivits literasi, dewan penyantun Armada Pustaka). Usai rekaman, saya langsung ke bandara, segera balik ke Makassar. Sebab esok, 30 April ada diskusi dengan peserta Positive Youth Project yang diadakan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Usai acara, balik menuju Desa Pambusuang. Tidak langsung menuju Sulawesi Tenggara untuk gabung Perahu Pustaka.

Tanggal 3 Mei dengan menggunakan angkutan umum menuju Bone, tepatnya Labuang Bajo. Dengan kapal feri akan menyeberang ke Kolaka. Pelayaran makan waktu satu malam. Tiba sekitar pukul 3 dinihari, 4 Mei di Kolaka. Dijemput teman, Sirajuddin, lalu dibawa kekediamannya. Istirahat sejenak, sekitar pukul 8 pagi menuju Kota Bombana. Di situ akan bertemu Horst, yang juga menuju kota itu (dari Pulau Sagori) untuk mendrop para penyelam yang sudah melakukan kegiatan riset di Pulau Sagori. Menjelang siang, kapal motor yang disewa Horst sejak dari Pantai Bira (jadi ada dua kapal yang berlayar ke Pulau Sagori) kembali ke Pulau Kabaena. Tiba di sana sekitar pukul 7 malam. Perahu Pustaka tidak ada di situ, dia tetap tinggal di Pulau Sagori, beberapa mil dari Pulau Kabaena. Nanti keesokan paginya kami ke sana.

Tanggal 5 Mei saya kembali gabung dengan Perahu Pustaka Pattingalloang di Pulau Sagori, pulau yang didiami orang Bajau. Saya dua hari di Pulau Sagori, adapun Perahu Pustaka sudah lima hari. Semenjak Perahu Pustaka tiba di sana, gerakan gelar lapak buku langsung dilakukan kru Perahu Pustaka dibantu Horst Liebner. Kegiatan utama ke Pulau Sagori adalah kegiatan riset BPCB (Badan Pengelolaan Cagar Budaya) Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat mengenai kapal VOC yang tenggelam 300 tahun lalu. Lewat Horst, BPCB melakukan kerjasama dengan Perahu Pustaka Pattingalloang, yakni sebagai alat transportasi ke sana. Di sisi lain, Perahu Pustaka mendapat keuntungan sebab bisa melakukan kegiatan literasi di tempat jauh tanpa mengeluarkan biaya. Ongkos pelayaran ditanggung sepenuhnya oleh BPCB dan lembaga lain yang mendukung riset tersebut.

Tanggal 7 Mei sore Perahu Pustaka meninggalkan Pulau Sagori, berlayar ke arab barat, melintasi Teluk Bone, menuju Pantai Bira. Di pelayaran inilah catatan di atas saya buat. Pelayaran relatif lebih cepat dan aman sebab didorong angin Timur, beda waktu baru menuju ke Pulau Sagori. Tiba 8 Mei pagi Pantai Bira. Di sini Horst dan dua peneliti yang terlibat di riset akan menggunakan mobil menuju Makassar. Usai turunkan barang di Pelabuhan Bira, saya bersama Perahu Pustaka melanjutkan pelayaran pulang. Tak langsung ke Makassar, singgah di Tana Beru. Sebab ada bagian pengisian baterei/aki solar panel mengalami kerusakan, aki tak bisa terisi penuh. Di Tana Beru, dua aki yang dibawa Perahu Pustaka di-charge penuh. Aki digunakan untuk menyalakan GPS yang digunakan di Perahu Pustaka. Di Tana Beru juga saya manfaatkan bersuda dengan H. Jafar, salah satu ‘panrita lopi’ di Bulukumba.

Tanggal 8 Mei pagi, dari Tana Beru kami menuju Makassar. Tiba magrib di Pantai Losari Makassar. Dua hari di Makassar. Tanggal 9 Mei diisi dengan menambah logistik dan membawa kru Perahu Pustaka jalan-jalan atau berbelanja. Perahu Pustaka kembali berlayar menuju Mandar 10 Mei. Pelayaran diikuti oleh Arifin Nejaz, teman dari Tinambung. Menjelang sore, tiba di Pare-pare. Di sini Perahu Pustaka menggelar buku, ditemani teman-teman penggiat literasi di kota kelahiran Habibie tersebut. Kemudian pukul 9 malam, pelayaran dilanjutkan menunu Pambusuang. Berangkat lebih malam dengan perkiraan tiba terang atau pagi di Pambusuang. Resikonya, pelayaran sedikit lebih berbahaya. Angin lebih kencang dan jarak pandang terbatas. Meski besar gelombang saat memasuki Teluk Mandar, Perahu Pustaka Pattingalloang selamat tiba kembali di Pambusuang. Meninggalkan pantai ini 24 April, tiba 11 Mei 2016. Kurang 2 hari dari 20 hari.

Peta Pelayaran
Rute pelayaran dari Pambusuang ke Pulau Sagori dibuat oleh Horst Liebner.

 

 

Perahu Pustaka Hadang Pembangunan Tanggul

MRA_8745
Perahu Pustaka (kanan) menghadang jalur eskavator yang akan menimbung garis pantai Pambusuang (27 Maret 2016)

BALANIPA – Pembangunan tanggul di pantai Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa mendapat penolakan salah satu warganya. Hal tersebut dilakukan oleh Muhammad Ridwan, warga Desa Pambusuang yang juga peneliti kebaharian Mandar, yang secara demonstratif tidak mau memindahkan perahunya, Perahu Pustaka Pattingalloang, dari garis pantai (Minggu, 27/3).
Aksi tersebut mengakibatkan eskavator yang sedang melakukan penimbunan pantai menghentikan pekerjaannya, termasuk truk-truk yang hilir mudik dari Palippis (tempat pengambilan timbunan) ke Pambusuang.
“Saya melakukan penolakan sebab kegiatan ini tidak memiliki izin atau dokumen Analisis Dampak Lingkungan. Papan proyek juga tidak ada. Alasan lain adalah pembangunan tanggul tersebut disadari atau tidak akan mendegradasi beberapa tradisi penting dalam kebudayaan bahari Mandar. Tanggul itu secara fisik dan simbolis memisahkan masyarakat dari lautnya. Belum lagi alasan praktis, misalnya perahu tak akan bisa lagi disimpan di daratan sebab sudah terhalang oleh tanggul, berubahnya bentang alam, dan jangka panjang akan merusak lingkungan. Hanya saja orang belum menyadari itu saat ini” ucap Muhammad Ridwan.
Pembangunan tanggul direncanakan sepanjang 1 km yang melalui Desa Pambusuang hingga Desa Sabang Subik. Saat dikonfirmasi ke pihak Badan Lingkungan Hidup Kabupaten Polewali Mandar, dikatakan bahwa belum ada surat dari BLH untuk dokumen Analisis Dampak Lingkungan pembangunan tanggul di Pambusuang. Hal tersebut disampaikan oleh Hikmah, Kepala Bidan Analisis Dampak Lingkungan BLH Kabupaten Polewali Mandar.
Tidak adanya papan proyek diakui salah satu pengawas kegiatan penimbunan. Juga disampaikan langsung oleh Fahmi, perwakilan pihak kontraktor dalam diskusi yang dimediasi Kepala Desa Pambusuang di Kantor Desa Pambusuang pada Minggu sore. “Saya mewakili pelaksana pembangunan tanggul mohon maaf sebab selama proses persiapan ini tidak ada papan proyek. Sekarang ini kita baru buat akses jalan, nanti kerja baru kami pasang setelah pihak dinas menyetujui gambar desain tanggul,” kata Fahmi di hadapan masyarakat Desa Pambusuang.
“Beberapa waktu lalu kami mendapat surat dari Balai Wilayah Sungai Sulawesi III, berisi prihal rencana pembangunan tanggul di pantai Pambusuang. Mendapat surat itu saya langsung membuat surat yang isinya tanda tangan bersedia 48 orang yang rumahnya persis di pinggi pantai. Tapi untuk orang yang memiliki perahu atau biasa menyimpan perahunya di pantai, itu tidak kita lakukan. Karena yang punya rumah sudah setujua, maka pembangunan juga saya setujui,” terang Mansur, Kepala Desa Pambusuang.
Pembangunan tanggul di Desa Pambusuang menjadi polemik, ada yang mendukung ada yang tidak. Pihak yang mendukung beranggapan bahwa tanggul bisa melindungi rumah mereka dari hempasan ombak. Sebaliknya yang memiliki perahu berukuran besar, jika ada tanggul, praktis perahu tidak bisa disimpan di darat melainkan tetap terapung di laut. Jika ombak besar, itu bisa membahayakan perahu yang ditambatkan. Ada ratusan perahu di pantai Pambusuang yang biasa didaratkan jika tak digunakan melaut. Perahu tersebut mau tak mau harus diturunkan semua ke laut jika ada tanggul.
Menurut perwakilan pelaksana proyek, Fahmi, “Nanti ada pintu masuk di beberapa bagian yang bisa dilalui perahu jika ingin disimpan. Juga ada tempat untuk menambatkan perahu.” Tapi menurut Ridwan, itu terlalu menggampangkan. Katanya, “Memang bisa untuk perahu kecil atau satu dua kapal saja, tapi ini kan ada puluhan kapal ukuran besar yang tidak mungkin bisa di satu tempat yang tak terlalu luas di antara tanggul dengan rumah penduduk. Dan kalau musim barat ketika ombak besar, perahu di simpan di mana?” Tapi ditimpali lagi oleh salah satu nelayan peserta diskusi mediasi, bahwa kalau musim barat perahu bisa disimpan di desa lain, yang pantainya aman dari hempasan ombak.
“Sore ini saya geser Perahu Pustaka ke arah darat untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Pembangunan ini berpotensi menimbulkan konfilik horizontal, antara yang pro dengan kontra, sebagaimana yang pernah terjadi di Desa Tangnga-Tangnga Tinambung. Meski demikian, saya pribadi tetap menolak pembambungan tanggul bila tak ada jaminan tradisi kemaritiman Mandar tetap bisa berjalan secara alami di sebuah desa berpantai, bukan desa bertanggul, perahu tetap aman disimpan dan pemukiman penduduk aman secara jangka panjang dari abrasi pantai. Pembangunan tanggul ini hanya jangka pendek, yang melenakan. Pemerintah kita baik kabupaten maupun provinsi tidak sensitif akan masalah ini. Tidak ada visi pembangunan yang berwawasan lingkungan. Pemerintah memang harus membangun pelindung agar pantai atau pemukiman penduduk terhindar abrasi, tapi itu ada teknologi lain, yang lebih ramah lingkungan dan jangka panjang lebih aman. Kalau tanggul itu hanya cara instan,” pungkas Ridwan.

Dimuat di harian Radar Sulbar, Senin 28 Maret 2016

PENJELASAN TERBALIKNYA PERAHU PUSTAKA PATTINGALLOANG (1)

Sebelum terbalik 1
Perahu Pustaka Pattingalloang siap angkat sauh, bersiap untuk berlayar. Beberapa menit sebelum terbalik. Foto: Maman Suherman

Saat pelaksanaan Festival Sungai Mandar III di Sungai Tinambung 10 – 12 Maret, Perahu Pustaka Pattingalloang ikut serta. Perahu Pustaka dilabuh di samping panggung yang terbuat dari bambu. Kurang lebih 2 km dari mulut muara Sungai Mandar.

Sisa bambu yang tidak digunakan dalam pembuatan panggung (dan memang acara telah usai) akan digunakan sebagai tempat duduk pembaca di Perpustakaan Rakyat Sepekan III yang berlangsung 12 – 17 Maret di Desa Pambusuang.

Sekitar pukul 9 pagi, Perahu Pustaka meninggalkan lokasi Festival Sungai Mandar sambil menarik kurang lebih 20 batang bambu mentah (setara satu unit rakit). Perahu Pustaka menuju pantai Desa Tangnga-tangnga, berjarak 2 km, tempat pelaksanaan Pesta Nelayan yang acara intinya adalah final lomba perahu sandeq kecil. Perahu dilayarkan oleh tiga pelaut Mandar.

Saya, pemilik Perahu Pustaka, meminta pelaut untuk tidak langsung berlayar ke Pambusuang. Hal itu saya sampaikan ke pelaut di Pambusuang sesaat sebelum mereka ke Tinambung (menggunakan angkutan umum).  Rencana di Desa Tangnga-tangnga saya naik beserta Bang Maman Suherman, salah satu sosok yang banyak membantu pendonasian buku untuk Perahu Pustaka.

Sekitar pukul setengah dua siang, bersama Bang Maman Suherman, Imhe (jurnalis Tempo dari Makassar), dan tiga teman yang lain serta anak saya, Nabigh Panritasaga (umur 6 tahun) meninggalkan Pambusuang menuju Desa Tangangnga. Rencananya untuk ikut serta berlayar di Perahu Pustaka.

Awalnya Aan Mansyur, sastrawan di Makassar, juga diajak, tapi karena masih capek (baru tiba di Pambusuang, datang dari Makassar) Aan tidak jadi ikut, tetap tinggal di Nusa Pustaka Pambusuang.

Sekitar pukul setengah dua siang, kami naik ke atas Perahu Pustaka Pattingalloang yang semuanya terbuat dari kayu. Perahu bisa dikatakan sarat muatan, bisa juga tidak. Dikatakan demikian sebab dari luar perahu nampak “berat” sebab di atas perahu tersusun puluhan batang bambu yang mentah (berat). Dikatakan juga tidak sarat sebab di bagian dalam perahu hanya berisi 5 boks buku (kurang lebih 300 – 500 buku). Sebab perahu berat di bagian atas, perahu cenderung tidak stabil. Itu semakin tidak stabil sebab ada tambahan beberapa orang: 3 pelaut + 7 penumpang yang semuanya juga duduk di atas. Semua berkumpul di atas sebab bambu yang memanjang sepanjang perahu menutupi tiga pintu perahu, kecuali pintu masuk bagian buritan yang menyisakan ruang untuk bisa masuk.

Sebelum terbalik 2
Perahu Pustaka dipenuhi bambu di bagian atas, yang membuatnya labil. Foto: Maman Suherman

Karena di atas sudah penuh dan sebab Bang Maman Suherman memang mau melihat suasana bagian dalam perahu, Bang Maman masuk ke ruang perahu melewati pintu bagian buritan. Proses itu paralel dengan aktivitas pelayar yang melepas satu per satu tali dari tambatan. Adapun penumpang, saya dan lain, memperbaiki posisi yang memang tidak begitu baik sebab begitu banyak bambu di atas perahu. Saat itu memang posisi perahu terasa tidak stabil, sedikit bergerak langsung oleng. Tapi akan kembali normal beberapa detik kemudian.

Tapi ketika kru/pelaut terakhir berusaha naik ke atas perahu di sisi kanan burita perahu, yang berarti ada tambahan sekitar 60 kg di salah satu sisi perahu, itu menjadi pemicu akhir yang membuat perahu terbalik 180 derajat. Prosesnya terjadi perlahan, penumpang memiliki banyak waktu untuk melompat. Jarak antara bagian atas perahu dengan permukaan laut hanya 1 meter.

Anak saya relatif aman sebab mengenakan baju pelampung. Satu per satu dicek, hanya wajah Bang Maman Suherman yang tidak kelihatan. Bang Mamang Suherman terjebak di dalam ruang perahu yang sudah terbalik. Pintu perahu menghadap ke bawah, ke dasar permukaan laut yang dalamnya antara 2 – 3 meter. Salah satu pelaut memanggil-manggil, Bang Maman langsung menjawab, “Ya.” Pelaut pun mengintruksikan Maman Suherman untuk keluar lewat pintu perahu. Untuk itu dia harus menyelam dulu. Karena ada banyak batang bambu yang terikat di perahu, proses keluar tidak berjalan lancar. Menurut Bang Maman, karena ada tas punggung di belakangnya, dia sempat tersangkut saat akan keluar. Dia pun melepas, tapi tas itu tersangkut lagi di kakinya. Akhirnya Maman Suherman bisa keluar.

Beberapa penduduk langsung berhamburan ke lokasi kejadian. Mereka membantu mengevakuasi penumpang, yang lain berusaha membalikkan perahu (yang masih dalam kondisi terapung, ada banyak udara terjebak di dalam ruang perahu). Proses membalikkan perahu tidak begitu lama. Beberapa masyarakat juga membantu memungut barang-barang yang terapung, baik milik penumpang maupun buku-buku dalam perahu.

Sebab tempat kejadian hanya berjarak 10 – 20 meter dari garis pantai, proses evakuasi mudah dilakukan. Karena beberapa dasar perairan berbatu karang (tajam), dua penumpang luka-luka kakinya, salah satunya Bang Maman Suherman. Juga ada luka lecet di punggung karena bergesekan dengan pintu atau bambu saat keluar dari lambung perahu.

Saat perahu berhasil dibalik, air dari dalam lambung perahu langsung dikeluarkan (ditimba menggunakan ember) oleh masyarakat yang membantu. Adapun korban berkumpul di balik tanggul, memulihkan kondisi, memeriksa gadget. Adapun saya tetap di garis pantai, memperhatikan proses evakuasi perahu sambil menenangkan anak saya yang nangis/shock.

Kejadian itu, atau proses dari terbalik hingga selesainya berlangsung kurang lebih setengah jam.

Ditulis oleh Muhammad Ridwan Alimuddin, pengelola Perahu Pustaka Pattingalloang

Anggota DPD RI Diskusi Literasi di Nusa Pustaka

Asri Anas menyampaikan pemikirannya mengenai gerakan literasi di Sulawesi Barat dalam diskusi di Nusa Pustaka Selasa 8 maret 2016. Foto Urwa
Asri Anas menyampaikan pemikirannya mengenai gerakan literasi di Sulawesi Barat dalam diskusi di Nusa Pustaka, Selasa 8 Maret 2016. Foto Urwa

“Saya paling tidak percaya Majene bisa jadi kota pendidikan,” hal tersebut dikemukakan Muhammad Asri Anas, anggota DPD-RI Wakil Sulawesi Barat, dalam diskusi literasi yang dilaksanakan di Perpustakaan Museum Nusa Pustaka, Pambusuang Selasa sore 8/3.
Diskusi yang dipandu Farhan, dosen Universitas Sulawesi Barat, diikuti puluhan orang yang berasal baik dari Pambusuang, Majene, Mamuju dan Polewali. “Bagaimana bisa terwujud kalau pemerintah tidak serius dalam melakukan investasi besar untuk pendidikan, bagaimana bisa terwujud jika perpustakaannya tidak sampai 100 ribu judul buku,” jelas Asri Anas.
Asri Anas banyak memaparkan informasi, mulai dari urutan Indonesia dalam budaya baca hingga belum adanya pemerintah kabupaten dan Provinsi Sulawesi Barat yang kuat visi misinya dalam pendidikan. “Dari 45 negara, Indonesia berada di urutan 41 untuk budaya baca. Di Asean, kita juga ketinggalan. Belum lagi di dunia kampus, yang membaca buku setiap hari rata-rata lima sampai enam persen saja. Sistem pendidikan di negara kita membuat orang tidak memiliki visi yang jelas. Selesai kuliah mereka bingung, tak ada lapangan kerja katanya. Kita juga tak ada mental tarung, tak berani keluar kotak atau zona nyaman,” tegas Asri Anas.
Muhammad Ridwan sebagai pengelola Nusa Pustaka mengapresiasi kedatangan Asri Anas di Nusa Pustaka. “Beberapa hari lalu kanda Asri Anas menghubungi saya, menawarkan berdiskusi mengenai gerakan literasi di sini. Saya dan kawan-kawan menyambut baik, sebab itu memang sesuai tujuan kita. Selain menyediakan bahan bacaan, juga sebagai tempat bertukar pikiran. Sejauh hal baik yang dibicarakan, latar belakang pembicara kita terima semua,” kata Ridwan.
Nusa Pustaka sudah beberapa kali mengadakan diskusi yang menghadirkan pembicara, seperti sejarawan Belgia David van Reybrouck, petualang Jepang Sato Yohei, intelektual muslim Prof. Ahmad Sewang. “Kemarin Nusa Pustaka juga didatangi Bapak Ali Baal Masdar, mantan Bupati Polewali Mandar. Beliau mengapresiasi kegiatan kita di sini,” kata Ridwan yang akan meluncurkan secara resmi Perpustakaan dan Museum Nusa Pustaka 13 Maret mendatang.
Di akhir diskusi yang berlangsung sore hari, Asri Anas mengusulkan agar Komunitas Armada Pustaka menularkan semangat dan gerakan literasinya ke tempat lain di Sulawesi Barat. “Cukuplah Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa ini jadi semacam ‘pilot project’. Idealnya Ridwan dan kawan-kawan membuat semacam ‘road map’ gerakan literasi ala komunitas lima atau sepuluh tahun mendatang. Ini banyak teman-teman pendamping desa yang bisa bersinergi,” semangat Asri Anas yang juga telah membangun gedung bakal perpustakaan di kampung halamannya di Tapango.
Sebelum acara ditutup, Asri Anas menyerahkan lima buku ke Muhammad Ridwan Alimuddin. “Ini simbolis saja, nanti saya sumbangkan 300 judul buku baru ke Nusa Pustaka,” janji Asri Anas.

Mengenang 8 Tahun Great Journey on The Sea di Nusa Pustaka

MRA_3369
Peserta diskusi Mengenang 8 Tahun The Great Journey in The Sea di Nusa Pustaka

Sebagai benua maritim, Indonesia adalah salah satu obyek terbaik dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan budaya laut, baik itu penelitian maupun petualangan atau ekspedisi pelayaran.

Dari sekian ekspedisi pelayaran yang pernah berlangsung di dan atau dari Indonesia ke luar negeri, ekspedisi paling berbahaya dan paling lama adalah ekspedisi dua perahu tradisional dari Mandar ke Jepang, yang berlangsung dari 13 April 2009 sampai 13 Mei 2011.

“Pelayaran Pinisi Nusantara ke Amerika hanya 60an hari, Ekspedisi Perahu Borobudur dari Jawa Timur ke Afrika juga beberapa bulan saja. Yang lain, misalnya sandeq ke pAustralia tidak sampai dua bulan. Dan semua pelayaran itu menggunakan mesin sebagai alat bantu. Pun perahunya dibuat dengan bantuan teknologi, termasuk bahan-bahannya. Beda yang berlayar ke Jepang, semua tradisional,” kata Ridwan, peneliti bahari yang membantu riset ekspedisi The Great Journey on The Sea, dari Mandar ke Jepang.

“Dalam rangka menyebarluaskan informasi mengenai ekspedisi terhebat tersebut, di mana orang Mandar sebagai pelayarnya, kita adakan diskusi dan pemutaran film dokumenter mengenai ekspedisi tersebut di Museum Maritim Mandar Nusa Pustaka. Kita hadirkan langsung petualang Jepang yang ikut yaitu Sato Yohei, Aziz Salam peneliti maritim yang juga banyak terlibat, dan Danial, pelaut Mandar yang ikut,” kata Ridwan si penggagas acara, yang berlangsung dari pukul 8 sampai 11 malam, 4 Maret.

Acara dihadiri puluhan peserta, seperti santri Pambusuang, komunitas-komunitas di Tinambung, dan individu yang memiliki perhatian ke kebudayaan bahari Mandar. salah satunya Misma Anas, yang sengaja datang dari Polewali untuk ikut menyaksikan film dokumenter pelayaran orang Mandar bersama orang Jepang ke Jepang.

“Tertarik dengan antusias orang Jepang yang jauh jauh datang ke tanah Mandar untuk menyaksikan sendiri cara pembuatan perahu tradisional kita sampai cara melayarkannya. Sebagai pemuda Mandar pastinya rasa bangga itu ada dan lewat diskusi ini menyadarkan lagi diri saya pribadi tuk mencintai kebudayaan kita, kebudayaan para leluhur kita dan pastinya merasa bangga menjadi orang Mandar,” komentar Misma Anas yang skripsinya tentang nelayan Mandar.

Abi Qiffary, pemuda Tinambung yang nyaris setiap pekan snorkling atau menyelam di laut, juga cukup antusias menyaksikan film. “Filmnya menginspirasi. Saya jadi ingin melakukan hal yang serupa, ikut berlayar menggunakan perahu Mandar. Sangat luar biasa. Pelaut Mandar memang hebat,” tutur Abi.

Ekspedisi pelayaran dari Mandar ke Jepang prosesnya dimulai pertengahan 2008. Di mana beberapa orang Jepang, yang dipimpin Yoshiharu Sekino, melakukan riset di Indonesia. Akhirnya mereka memilih Mandar. Di Mandar belajar melaut di Karama Tinambung, cari bahan kayu perahu di Korossa, dan membuatnya di Luaor Majene.

Hasil dokumentasi ekspedisi tersebut diwujudkan dalam beberapa buku dan serial film dokumenter di salah satu stasiun televisi di Jepang.

13 Maret, Nusa Pustaka Diresmikan

Nusa Pustaka Fajar
Nusa Pustaka begitu bunyi tulisan di pohon nyiur itu. Tulisan sebagai penanda letak perpustakaan milik Ridwan Alimuddin di Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulbar.

Perpustakan akan menjadi museum Maritim Mandar. Di Museum itu akan menjadi spirit bagi anak-anak dan warga untuk menebar bacaan. Nusa Pustaka itu menampung sedikitnya 6.000 buku bacaan, baik buku sastra, komik, budaya, maritim, maupun buku ilmu pengetahuan umum mengisi Nusa Pustaka.

Semuanya tertata rapi, uniknya ada perahu khas Mandar, sandeq menjadi pajangannya. Begitu pun, replika perahu nusantara mengisi nusa pustaka itu. “Sekaligus memberi pengetahuan kemaritiman,” ujar Ridwan.

Nusa Pustaka itu juga kerap dikunjungi anak-anak sekolah di kala pagi hingga malam hari. Bahkan dari komunitas luar Polman, juga mengunjungi Nusa Pustaka.

Nusa Pustaka itu akan diresmikan pada Minggu 13 Maret. Spesialnya lagi dipeluncuran itu dirangkaikan dengan perpustakaan rakyat sepekan (PRS) III.

Juga dijadwalkan hadir, antropolog, Horst Liebner, sastrawan, Aan Mansyur, motivator, Maman Suherman, dan sejarahwan, JJ Rizal. Jadi tak ada salahnya bila berkunjung di Nusa Pustaka di hari itu, dan hari berikutnya. (ham/jai)

Dimuat di Fajar Online