Perahu Pustaka, Misi Edukasi Perahu Tradisional Mandar

Ptroses pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang (Foto: Dahri Dahlan)
Ptroses pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang (Foto: Dahri Dahlan)

Oleh: Indra J Mae

KABARKAMI. Sebuah perahu tradisional khas Mandar kembali diangkat kepermukaan sebagai simbol pelestarian tradisi dan budaya lokal di Sulawesi Barat. Perahu yang dibuat khusus ini merupakan swadaya dari komunitas budaya setempat dibantu masyarakat dalam rangka mendukung program pengembangan pendidikan sosial lokal.
Kehadiran karya ini tentu menambah referensi dan informasi baru yang sangat berharga mengenai fungsi sebuah pelestarian tradisi dalam mendukung edukasi budaya dan kearifan lokal di Sulawesi Barat.
Perahu yang diberi nama Patingalloang ini berbalut misi yang unik yakni sebagai pendukung media pembelajaran, sekaligus media pencerahan. Ia diberi status “Perahu Pustaka”, perahu yang di orientasikan memfasilitasi minat masyarakat umum untuk belajar khususnya tentang budaya dan tradisi Mandar.

Proses awalnya adalah digelarnya upacara ritual pembuatan perahu, berlokasi di Baqba Toa, Lapeo, Campalagiang. Upacara awal pembuatan perahu dimulai dengan penyambungan lunas (batang utama perahu) diiringi dengan doa keselamatan. Semua proses upacaranya sarat dengan makna yang menyimbolkan pada kesuburan, limpahan rezeki, kekuatan dan penyerahan kepada kekuatan yang maha kuasa.
Penggunaan simbol-simbol dalam kebudayaan Mandar diistilahkan “ussul”, mulai dari menyentuhkan ujung “pamarung” ke puting susu dengan fungsi makanan berlemak dan yang manis. Konstruksi penyambungan yang menyimbolkan penis dan vagina, hingga penggunaan alat-alat baru. “Ussul” bisa diciptakan sendiri atau dikembangkan, misalnya si pemilik perahu terlibat dalam proses pembuatan dengan menggunakan sarung baru maka “Ussul-nya”, dengan menggunakan sarung ini, ke depan, si pemilik perahu bisa terlibat mulai dari awal sampai akhir hingga penggunaan Perahu.

Pelengkap upacara ritualnya berupa adonan di atas piring yang berisikan parutan kelapa, gula merah, air tawar dari guci (untuk air minum), dimana sebuah emas akan dibilaskan dengan air itu. Adonan atau cairan itu menyimbolkan kesuburan dan fungsi sperma saat persetubuhan.
Bagian utama perahu Pustaka “Pattingalloang I” berupa Tiga batang kayu utama disambung. Haluan dan buritan namanya “pamarung” (bagian yang bengkok), itu simbol laki2. Kemudian pada bagian yang lurus disebut lunas (simbol perempuan). Materialnya adalah kayu nyamuk, sekelas kayu besi/ulin, didatangkan khusus dari Kalimantan, sedang material untuk pamarungnya adalah jenis kayu jati.

Awal Juni, perahu Pustaka Pattingalloang I akan diperkenalkan ke publik hingga ke kota Makassar, dalam sebuah perhelatan khusus sesuai misi edukasinya.

Sumber: kabarkami.com, April 26, 2015 AT 10:03 AM

http://www.kabarkami.com/perahu-pustaka-misi-edukasi-perahu-tradisional-mandar.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s