Nakhodai Perahu Pustaka Bawa Empat Ribu Buku

Nusa-Pustaka

Muhammad Ridwan Alimuddin menebarkan kegemaran membaca di pesisir, daratan, sampai pegunungan. Tengah membangun museum yang sekaligus berfungsi sebagai perpustakaan. 

***

PELAT nama itu tertancap di pohon kelapa. Bunyinya: Nusa Pustaka, Perpustakaan Museum. Foto-foto yang menyertainya memperlihatkan sekelompok orang meriung dekat perahu yang berada di suatu halaman kosong.

Di atas semua foto yang terpampang di wall Facebook-nya kemarin (4/12) itu, Muhammad Ridwan Alimuddin menulis, “Koleksi pertama di halaman Nusa Pustaka, perpustakaan dan museum di Pambusuang.”

Itulah mimpi yang kini berusaha keras diwujudkan Ridwan untuk melengkapi ikhtiarnya menyebarkan virus literasi. Sebuah museum sekaligus perpustakaan di tempat tinggalnya, Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Museum tersebut bakal dibangun dengan menggunakan bangkai perahu sandeq, jenis perahu tradisional bercadik khas setempat. “Di tempat itu nanti kami juga mengenalkan edukasi soal sandeq yang saat ini hampir punah,” kata Ridwan kepada Jawa Pos Group yang menemuinya di kediamannya Selasa lalu (1/12).

Pria kelahiran Tinambung pada 23 Desember 1978 tersebut mengungkapkan impiannya itu dengan penuh semangat. Matanya berbinar-binar, tangannya beberapa kali mengepal, dan intonasi suaranya sangat bertenaga.

Untuk menyebarkan kegemaran membaca, spirit dan tenaga pria yang sehari-hari bekerja sebagai penulis, fotografer, dan fixer film dokumenter itu memang selalu menyala. Dialah yang pada Juni lalu menakhodai Perahu Pustaka Pattingalloang melayari pulau-pulau kecil dan terpencil di pesisir barat Sulawesi. Sekitar empat ribu buku dibawanya kala itu. Separo di antaranya koleksi pribadi. Jenisnya beragam, mulai novel, komik, majalah, sampai buku pelajaran.

Dalam pelayaran menggunakan kapal jenis bago sepanjang 10 meter, diameter 2,5 meter, dan layar setinggi 10 meter tersebut, Ridwan dibantu tiga pelaut Mandar. Plus dua rekannya, As’ad serta Urwa. Mereka menyinggahi Polewali, Majene, Pulau Battoa, Pantai Bahari, Malunda, Sendana, Pamboang, hingga Bala Polman.

Bukan hanya di laut, di darat pun Ridwan menggerakkan motor pustaka yang khusus untuk daerah pegunungan hingga kampung terpencil. Juga becak, sepeda, dan bendi pustaka untuk kawasan tak jauh dari tempatnya berdomisili.

Dengan nada bicara merendah tapi raut yang memperlihatkan kelegaan, Ridwan mengenang bagaimana anak-anak, di pantai, daratan, maupun pegunungan, selalu menyambut armada pustakanya dengan antusias. “Jadi,” kata penulis buku Orang Mandar Orang Laut tersebut dengan nada suara kembali meninggi, “anak-anak kita itu sebenarnya minat bacanya tinggi. Hanya akses ke buku yang minim sekali.”

Tiap kali menepi bersama perahunya, rekan Ridwan, As’ad, akan membeber tikar sederhana. Lalu, kotak buku diturunkan, bacaan pun digelar. Anak-anak pesisir dengan penuh semangat menjamah buku-buku koleksi pustaka itu.

Pelayaran perahu tersebut juga dimanfaatkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat untuk menyosialisasikan pemilu yang ketika itu akan dihelat. Jadi, sembari membaca buku, anak-anak juga mendapat pengarahan sederhana dari Sukmawati, komisioner KPU yang mengikuti rombongan Ridwan.

Penggagas Perahu Pustaka Pattingalloang tersebut adalah Nirwan Ahmad Arsuka, budayawan kelahiran Barru, Sulawesi Selatan. Pelayaran pertamanya bertepatan dengan dimulainya Makassar International Writers Festival pada 3 Juni lalu.

Tiap kali singgah di sebuah tempat, Ridwan dkk meminta izin kepada guru sekolah setempat agar para murid diperbolehkan ke perahu. “Jadi sekalian edukasi maritim,” ucapnya.

Agar suasana santai, saat anak membaca, berbekal boneka sederhana, kru Perahu Pustaka biasa mendongeng. Atau membagikan cerita-cerita unik. “Hanya untuk menghibur. Agar tidak jenuh saat membaca,” tutur penulis buku Sandeq Perahu Tercepat Nusantara tersebut.

Pada akhirnya, bukan hanya anak-anak yang mengerumuni mereka, tapi juga orang-orang dewasa. Ketika harus bermalam di tempat yang disinggahi, kru perahu juga menayangkan film dokumenter tentang perahu sandeq dengan peralatan seadanya. Di Malunda, misalnya, mereka memanfaatkan layar dari spanduk.

Setelah selesai, Ridwan dkk akan menginap di perahu. Esoknya mereka bergegas ke tujuan berikutnya. Untuk sekali pelayaran selama seminggu, Ridwan harus mengeluarkan biaya Rp 3 juta. Termasuk untuk membayar pelaut yang ikut. “Kami sepakat bayaran mereka Rp 100 ribu per hari. Untungnya ada sisa (uang) dari kegiatan di Makassar beberapa waktu lalu yang cukup untuk tiga kali pelayaran,” ungkapnya.

Biaya armada pustaka yang di darat jauh lebih murah. Misalnya, untuk bendi pustaka, hanya dibutuhkan Rp 50 ribu untuk bisa sampai berkali-kali mengunjungi pelbagai tempat. Kendati mahal, Perahu Pustaka diakui Ridwan sangat penting sebagai ikon gerakan literasi. “Jangan dilihat borosnya, tapi dampaknya,” tutur dia.

Karena itu, pada Maret April tahun depan, dia bakal membawa Perahu Pustaka kembali berlayar. Dengan suntikan donasi dari mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, yang dituju adalah Kepulauan Spermonde, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Selain dari Rachmat, Ridwan mendapat sumbangan dari beberapa donatur lain. Selain tentu dia juga harus menyisihkan sebagian pendapatan pribadi sebagai penulis, fotografer, dan fixer film dokumenter.

Donasi tak hanya berupa uang, tapi juga buku. Di hari yang sama kemarin, misalnya, Ridwan juga menulis ucapan terima kasih di Facebook-nya kepada Perpustakaan Kaltim di Samarinda. Status tersebut disertai foto beberapa kardus berisi buku.

Dukungan dari berbagai pihak itulah yang turut menyemangati Ridwan untuk terus menyebarkan virus literasi ke berbagai tempat yang mampu dia jangkau. “Saya percaya, hanya dengan banyak membaca, kita bisa menaruh harapan pada generasi mendatang” tegasnya. (Ilham Wasi/Polewali Mandar/JPG/c9/ttg/JPG/r10)

Dimuat di Jawa Pos dan beberapa jaringannya, seperti Lombok Pos pada 5 Desember 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s