Nusa Pustaka, Anak Bungsu Armada Pustaka

Proses pembangunan Nusa PustakaAktivitas literasi yang digerakkan oleh masyarakat nampaknya semakin berkembang di Sulawesi Barat, khususnya di Kabupaten Polewali Mandar.
Setelah mengenalkan Armada Pustaka yang terdiri dari Perahu Pustaka, Bendi Pustaka, Motor Pustaka dan Becak Pustaka tahun 2015 lalu, mantan jurnalis Radar Sulbar, Muhammad Ridwan dan kawan-kawan kembali akan meluncurkan perpustakaan yang sekaligus berfungsi sebagai museum bahari Mandar.
“Dua bulan terakhir ini kita dalam proses pembangunan Perpustakaan Museum Nusa Pustaka di Desa Pambusuang. Nusa Pustaka kita bangun untuk memperkuat gerakan literasi yang telah dilakukan Armada Pustaka. Sejak kita luncurkan Armada Pustaka Juni 2015 lalu, ada ribuan donasi buku yang masuk. Mengandalkan Armada Pustaka untuk membuka ruang baca ke masyarakat Sulawesi Barat, khususnya adik-adik kita, agak sulit sebab Armada Pustaka terbatas bawaannya,” kata Muhammad Ridwan, koordinator Armada Pustaka yang juga pendiri Nusa Pustaka.
Agar ribuan buku termanfaatkan secara maksimal, mudah diakses masyarakat yang ingin setiap saat membaca dan meminjam buku adalah tujuan utama pembangunan Nusa Pustaka. “Kita ingin menggalakkan juga tradisi pinjam meminjam buku. Dengan adanya Nusa Pustaka ini, itu bisa dilakukan. Koleksi buku kita ini cukup beragam dan menarik-menarik. Buku anak-anak banyak disumbangkan oleh beberapa selebritis di Jakarta,” tambah Ridwan di Pambusuang (2/2)
Perpustakaan Museum Nusa Pustaka melibatkan beberapa pemuda Desa Pambusuang, khususnya dari kalangan santri. Salah satunya adalah Urwa, yang juga secara aktif melakukan gerakan literasi, misalnya Sepeda Pustaka di Mamuju. “Mengapa kita jadikan Nusa Pustaka ini sebagai museum adalah agar adik-adik kita bisa juga lebih mengenal secara lebih mendalam tradisi nenek moyangnya, khususnya dari kebaharian,” terang Urwa.
“Museum dan perpustakaan adalah simbol peradaban, ciri majunya sebuah daerah atau masyarakat. Ya, memang ada ratusan perpustakaan di Sulawesi Barat, tapi pengelolaannya belum maksimal. Adapun museum kayaknya hanya ada satu, yaitu Museum Mandar di Majene. Memang ada di Mamuju tapi sepertinya itu belum difungsikan. Nah, di Pambusuang ini yang cocok, kebetulan itu juga belum ada di Sulawesi Barat, adalah museum bahari Mandar. Jadi di Nusa Pustaka ini akan kita koleksi bentuk-bentuk kebudayaan bahari Mandar, mulai perahu sampai teknologi penangkapannya,” jelas Ridwan yang juga dikenal sebagai peneliti bahari Mandar dan telah menulis beberapa buku kebaharian.
Saat ini Perpustakaan Museum Nusa Pustaka mengoleksi lebih lima ribu buku dan beberapa artefak kebaharian. Misalnya tiga unit sandeq, replika perahu, beberapa alat nelayan dan artefak-artefak bangkai perahu Mandar. “Akan ada puluhan koleksi budaya bahari di Nusa Pustaka. Belum semua dibawa ke sini sebab kita masih penyempurnaan bangunan. Sebagai awal kita fokus ke perbaikan perpustakaan, lalu museumnya. Tapi pada dasarnya itu satu kesatuan, sebab beberapa koleksi kita jadikan juga sebagai tempat buku. Misalnya perahu sandeq,” tambah Ridwan.
Masyarakat Pambusuang antusias menyambut Nusa Pustaka. Meski belum diluncurkan, beberapa pelajar setiap sore sudah datang ke Nusa Pustaka untuk membaca buku. Termasuk nelayan setempat. “Saya menyambut baik Nusa Pustaka. Kalau kita membaca di sini, banyak kita tahu, pengetahuan bertambah,” kata Ahmad yang akrab disapa Kamaq Ida yang selalu datang ke Nusa Pustaka sambil membawa anaknya.
“Terus terang kami cukup senang dan bahagia bisa berkontribusi ke daerah kita lewat Perpustakaan Museum Nusa Pustaka ini. Pertama, kita ingin memperlihatkan citra bahwa Sulawesi Barat itu khususnya Polewali Mandar tidak selalu identik dengan kemiskinan atau prilaku kriminalitas. Kedua, gerakan seperti ini tidak tidak perlu sampai membebani pemerintah daerah kita. Dalam arti, proses pembangunan selama ini kita tidak minta-minta. Kami ingin bersinergi atau memperlihatkan bahwa gerakan seperti ini bisa dilakukan tanpa harus mengandalkan dana dari pemerintah,” pungkas Ridwan yang merencanakan peluncuran Perpustakaan Museum Nusa Pustaka pertengahan Februari ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s