Sejarawan Belgia Jadi Pembicara di Nusa Pustaka

Diskusi mahasiswa Universitas Sulawesi Barat bersama sejarawan dari Belgia, David Van Reybrouck

Peristiwa pembantaian di Galung Lombok yang oleh masyarakat Mandar menyebutnya sebagai “panyapuang” adalah sejarah hitam di Mandar. Ratusan orang Mandar, baik pejuang maupun masyarakat sipil, tewas di kejadian yang terjadi pada 1 Februari 1947 tersebut.
“Pembunuhan masyarakat sipil di Galung Lombok tidak banyak diketahui masyarakat Eropa, khususnya, Belanda. Padahal peristiwa itu adalah salah satu kejahatan terbesar dalam perang. Dewasa ini, generasi muda di sana ingin mengetahui sejarah atau apa yang dilakukan pendahulu mereka di daerah jajahan,” demikian kata David Van Reybrouck, dalam Bahasa Inggris, saat diskusi bersama mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sulawesi Barat di Perpustakaan dan Museum Nusa Pustaka, Pambusuang 18 Februari.

David Van Reybrouck adalah seorang sejarawan dari Belgia. Dia juag penulis karya sastra non-fiksi, novel, puisi dan drama. Atas prestasinya di bidang penulisan, dia menerima banyak penghargaan di Belanda, seperti AKO Literature Prize dan Libris History Prize.
“Saya datang ke sini untuk mencari tahu apa yang dilakukan Pasukan Westerling pada masa tersebut. Beberapa hari ini saya telah bertemu dengan dua saksi mata. Mereka trauma, tapi tidak ingin balas dendam. Mereka mengharap, kejadian serupa tidak dialami generasi sekarang dan masa mendatang,” terang David akan tujuannya datang ke Mandar.

Di Eropa, David cukup terkenal. Bukunya tentang masyarakat dan sejarah Kongo (negara di Afrika) yang berjudul “Congo: The Epic History of a People” diterjemahkan ke dalam 12 bahasa asing. “Tapi buku itu tidak ada dalam Bahasa Inggris. Saya berharap, buku yang saya tulis tentang sejarah Indonesia di masa 1945 – 1949 saat ini bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia,” tutur David yang menyelesaikan pendidikan beberapa universitas terkemuka, diantaranya Universitas Cambridge di London dan Universitas Leiden di Belanda.
Melakukan diskusi atau tukar pikiran dengan peneliti atau ilmuwan asing sangat berharga dan jarang bisa terjadi di Sulawesi Barat. Hal tersebut yang mendorong dua dosen di Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sulawesi Barat, Muhammad dan Farhanuddin, untuk mengajak mahasiswanya berdiskusi dengan David Van Reybrouck di Pambusuang. “Kuliah out door atau di luar kelas dengan dosen tamu peneliti asing diharapkan lebih memperkaya wawasan para mahasiswa, begitupula nanti bila di Mandar datang lagi tokoh, kita harap dapat berbagi ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa,” kata Farhanuddin yang ikut mendampingi mahasiswanya di Nusa Pustaka.

Hal senada juga dikemukakan oleh Muhammad, bahwa baik dosen maupun mahasiswa harus membina jaringan dengan pihak luar. “Kita menyadari Unsulbar sebagai universitas baru. Untuk mengatasi beberapa keterbatasan, kita harus memaksimalkan peluang yang ada. Salah satunya kedatangan David, pengalamannya yang dibagi ke mahasiswa Unsulbar patut kita apresiasi,” kata Muhammad.

“Kegiatan diskusi ilmiah di Nusa Pustaka adalah salah satu agenda utama. Kegiatan tersebut kita tidak jadwalkan rutin, melainkan kita memanfaatkan bila ada tokoh atau sosok yang kebetulan ada di Mandar, kita ajak. Seperti kedatangan David ini, jika dilewatkan begitu saja padahal beliau seorang peneliti dan penulis handal, kita akan rugi. Nah ini nanti tanggal 20 Februari, kembali kita adakan diskusi tentang agama dan budaya dengan pembicara Prof. Ahmad Sewang,” ungkap Muhammad Ridwan, pengelola Perpustakaan dan Museum Nusa Pustaka.

Acara yang dimulai sekira pukul empat sore diakhiri dengan pemutaran film dokumenter “Pembantaia di Galung Lombok” yang dibuat Muhammad Ridwan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s