Mengenang 8 Tahun Great Journey on The Sea di Nusa Pustaka

MRA_3369
Peserta diskusi Mengenang 8 Tahun The Great Journey in The Sea di Nusa Pustaka

Sebagai benua maritim, Indonesia adalah salah satu obyek terbaik dalam melakukan kegiatan yang berkaitan dengan budaya laut, baik itu penelitian maupun petualangan atau ekspedisi pelayaran.

Dari sekian ekspedisi pelayaran yang pernah berlangsung di dan atau dari Indonesia ke luar negeri, ekspedisi paling berbahaya dan paling lama adalah ekspedisi dua perahu tradisional dari Mandar ke Jepang, yang berlangsung dari 13 April 2009 sampai 13 Mei 2011.

“Pelayaran Pinisi Nusantara ke Amerika hanya 60an hari, Ekspedisi Perahu Borobudur dari Jawa Timur ke Afrika juga beberapa bulan saja. Yang lain, misalnya sandeq ke pAustralia tidak sampai dua bulan. Dan semua pelayaran itu menggunakan mesin sebagai alat bantu. Pun perahunya dibuat dengan bantuan teknologi, termasuk bahan-bahannya. Beda yang berlayar ke Jepang, semua tradisional,” kata Ridwan, peneliti bahari yang membantu riset ekspedisi The Great Journey on The Sea, dari Mandar ke Jepang.

“Dalam rangka menyebarluaskan informasi mengenai ekspedisi terhebat tersebut, di mana orang Mandar sebagai pelayarnya, kita adakan diskusi dan pemutaran film dokumenter mengenai ekspedisi tersebut di Museum Maritim Mandar Nusa Pustaka. Kita hadirkan langsung petualang Jepang yang ikut yaitu Sato Yohei, Aziz Salam peneliti maritim yang juga banyak terlibat, dan Danial, pelaut Mandar yang ikut,” kata Ridwan si penggagas acara, yang berlangsung dari pukul 8 sampai 11 malam, 4 Maret.

Acara dihadiri puluhan peserta, seperti santri Pambusuang, komunitas-komunitas di Tinambung, dan individu yang memiliki perhatian ke kebudayaan bahari Mandar. salah satunya Misma Anas, yang sengaja datang dari Polewali untuk ikut menyaksikan film dokumenter pelayaran orang Mandar bersama orang Jepang ke Jepang.

“Tertarik dengan antusias orang Jepang yang jauh jauh datang ke tanah Mandar untuk menyaksikan sendiri cara pembuatan perahu tradisional kita sampai cara melayarkannya. Sebagai pemuda Mandar pastinya rasa bangga itu ada dan lewat diskusi ini menyadarkan lagi diri saya pribadi tuk mencintai kebudayaan kita, kebudayaan para leluhur kita dan pastinya merasa bangga menjadi orang Mandar,” komentar Misma Anas yang skripsinya tentang nelayan Mandar.

Abi Qiffary, pemuda Tinambung yang nyaris setiap pekan snorkling atau menyelam di laut, juga cukup antusias menyaksikan film. “Filmnya menginspirasi. Saya jadi ingin melakukan hal yang serupa, ikut berlayar menggunakan perahu Mandar. Sangat luar biasa. Pelaut Mandar memang hebat,” tutur Abi.

Ekspedisi pelayaran dari Mandar ke Jepang prosesnya dimulai pertengahan 2008. Di mana beberapa orang Jepang, yang dipimpin Yoshiharu Sekino, melakukan riset di Indonesia. Akhirnya mereka memilih Mandar. Di Mandar belajar melaut di Karama Tinambung, cari bahan kayu perahu di Korossa, dan membuatnya di Luaor Majene.

Hasil dokumentasi ekspedisi tersebut diwujudkan dalam beberapa buku dan serial film dokumenter di salah satu stasiun televisi di Jepang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s