Anggota DPD RI Diskusi Literasi di Nusa Pustaka

Asri Anas menyampaikan pemikirannya mengenai gerakan literasi di Sulawesi Barat dalam diskusi di Nusa Pustaka Selasa 8 maret 2016. Foto Urwa
Asri Anas menyampaikan pemikirannya mengenai gerakan literasi di Sulawesi Barat dalam diskusi di Nusa Pustaka, Selasa 8 Maret 2016. Foto Urwa

“Saya paling tidak percaya Majene bisa jadi kota pendidikan,” hal tersebut dikemukakan Muhammad Asri Anas, anggota DPD-RI Wakil Sulawesi Barat, dalam diskusi literasi yang dilaksanakan di Perpustakaan Museum Nusa Pustaka, Pambusuang Selasa sore 8/3.
Diskusi yang dipandu Farhan, dosen Universitas Sulawesi Barat, diikuti puluhan orang yang berasal baik dari Pambusuang, Majene, Mamuju dan Polewali. “Bagaimana bisa terwujud kalau pemerintah tidak serius dalam melakukan investasi besar untuk pendidikan, bagaimana bisa terwujud jika perpustakaannya tidak sampai 100 ribu judul buku,” jelas Asri Anas.
Asri Anas banyak memaparkan informasi, mulai dari urutan Indonesia dalam budaya baca hingga belum adanya pemerintah kabupaten dan Provinsi Sulawesi Barat yang kuat visi misinya dalam pendidikan. “Dari 45 negara, Indonesia berada di urutan 41 untuk budaya baca. Di Asean, kita juga ketinggalan. Belum lagi di dunia kampus, yang membaca buku setiap hari rata-rata lima sampai enam persen saja. Sistem pendidikan di negara kita membuat orang tidak memiliki visi yang jelas. Selesai kuliah mereka bingung, tak ada lapangan kerja katanya. Kita juga tak ada mental tarung, tak berani keluar kotak atau zona nyaman,” tegas Asri Anas.
Muhammad Ridwan sebagai pengelola Nusa Pustaka mengapresiasi kedatangan Asri Anas di Nusa Pustaka. “Beberapa hari lalu kanda Asri Anas menghubungi saya, menawarkan berdiskusi mengenai gerakan literasi di sini. Saya dan kawan-kawan menyambut baik, sebab itu memang sesuai tujuan kita. Selain menyediakan bahan bacaan, juga sebagai tempat bertukar pikiran. Sejauh hal baik yang dibicarakan, latar belakang pembicara kita terima semua,” kata Ridwan.
Nusa Pustaka sudah beberapa kali mengadakan diskusi yang menghadirkan pembicara, seperti sejarawan Belgia David van Reybrouck, petualang Jepang Sato Yohei, intelektual muslim Prof. Ahmad Sewang. “Kemarin Nusa Pustaka juga didatangi Bapak Ali Baal Masdar, mantan Bupati Polewali Mandar. Beliau mengapresiasi kegiatan kita di sini,” kata Ridwan yang akan meluncurkan secara resmi Perpustakaan dan Museum Nusa Pustaka 13 Maret mendatang.
Di akhir diskusi yang berlangsung sore hari, Asri Anas mengusulkan agar Komunitas Armada Pustaka menularkan semangat dan gerakan literasinya ke tempat lain di Sulawesi Barat. “Cukuplah Desa Pambusuang Kecamatan Balanipa ini jadi semacam ‘pilot project’. Idealnya Ridwan dan kawan-kawan membuat semacam ‘road map’ gerakan literasi ala komunitas lima atau sepuluh tahun mendatang. Ini banyak teman-teman pendamping desa yang bisa bersinergi,” semangat Asri Anas yang juga telah membangun gedung bakal perpustakaan di kampung halamannya di Tapango.
Sebelum acara ditutup, Asri Anas menyerahkan lima buku ke Muhammad Ridwan Alimuddin. “Ini simbolis saja, nanti saya sumbangkan 300 judul buku baru ke Nusa Pustaka,” janji Asri Anas.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s