PENJELASAN TERBALIKNYA PERAHU PUSTAKA PATTINGALLOANG (1)

Sebelum terbalik 1
Perahu Pustaka Pattingalloang siap angkat sauh, bersiap untuk berlayar. Beberapa menit sebelum terbalik. Foto: Maman Suherman

Saat pelaksanaan Festival Sungai Mandar III di Sungai Tinambung 10 – 12 Maret, Perahu Pustaka Pattingalloang ikut serta. Perahu Pustaka dilabuh di samping panggung yang terbuat dari bambu. Kurang lebih 2 km dari mulut muara Sungai Mandar.

Sisa bambu yang tidak digunakan dalam pembuatan panggung (dan memang acara telah usai) akan digunakan sebagai tempat duduk pembaca di Perpustakaan Rakyat Sepekan III yang berlangsung 12 – 17 Maret di Desa Pambusuang.

Sekitar pukul 9 pagi, Perahu Pustaka meninggalkan lokasi Festival Sungai Mandar sambil menarik kurang lebih 20 batang bambu mentah (setara satu unit rakit). Perahu Pustaka menuju pantai Desa Tangnga-tangnga, berjarak 2 km, tempat pelaksanaan Pesta Nelayan yang acara intinya adalah final lomba perahu sandeq kecil. Perahu dilayarkan oleh tiga pelaut Mandar.

Saya, pemilik Perahu Pustaka, meminta pelaut untuk tidak langsung berlayar ke Pambusuang. Hal itu saya sampaikan ke pelaut di Pambusuang sesaat sebelum mereka ke Tinambung (menggunakan angkutan umum).  Rencana di Desa Tangnga-tangnga saya naik beserta Bang Maman Suherman, salah satu sosok yang banyak membantu pendonasian buku untuk Perahu Pustaka.

Sekitar pukul setengah dua siang, bersama Bang Maman Suherman, Imhe (jurnalis Tempo dari Makassar), dan tiga teman yang lain serta anak saya, Nabigh Panritasaga (umur 6 tahun) meninggalkan Pambusuang menuju Desa Tangangnga. Rencananya untuk ikut serta berlayar di Perahu Pustaka.

Awalnya Aan Mansyur, sastrawan di Makassar, juga diajak, tapi karena masih capek (baru tiba di Pambusuang, datang dari Makassar) Aan tidak jadi ikut, tetap tinggal di Nusa Pustaka Pambusuang.

Sekitar pukul setengah dua siang, kami naik ke atas Perahu Pustaka Pattingalloang yang semuanya terbuat dari kayu. Perahu bisa dikatakan sarat muatan, bisa juga tidak. Dikatakan demikian sebab dari luar perahu nampak “berat” sebab di atas perahu tersusun puluhan batang bambu yang mentah (berat). Dikatakan juga tidak sarat sebab di bagian dalam perahu hanya berisi 5 boks buku (kurang lebih 300 – 500 buku). Sebab perahu berat di bagian atas, perahu cenderung tidak stabil. Itu semakin tidak stabil sebab ada tambahan beberapa orang: 3 pelaut + 7 penumpang yang semuanya juga duduk di atas. Semua berkumpul di atas sebab bambu yang memanjang sepanjang perahu menutupi tiga pintu perahu, kecuali pintu masuk bagian buritan yang menyisakan ruang untuk bisa masuk.

Sebelum terbalik 2
Perahu Pustaka dipenuhi bambu di bagian atas, yang membuatnya labil. Foto: Maman Suherman

Karena di atas sudah penuh dan sebab Bang Maman Suherman memang mau melihat suasana bagian dalam perahu, Bang Maman masuk ke ruang perahu melewati pintu bagian buritan. Proses itu paralel dengan aktivitas pelayar yang melepas satu per satu tali dari tambatan. Adapun penumpang, saya dan lain, memperbaiki posisi yang memang tidak begitu baik sebab begitu banyak bambu di atas perahu. Saat itu memang posisi perahu terasa tidak stabil, sedikit bergerak langsung oleng. Tapi akan kembali normal beberapa detik kemudian.

Tapi ketika kru/pelaut terakhir berusaha naik ke atas perahu di sisi kanan burita perahu, yang berarti ada tambahan sekitar 60 kg di salah satu sisi perahu, itu menjadi pemicu akhir yang membuat perahu terbalik 180 derajat. Prosesnya terjadi perlahan, penumpang memiliki banyak waktu untuk melompat. Jarak antara bagian atas perahu dengan permukaan laut hanya 1 meter.

Anak saya relatif aman sebab mengenakan baju pelampung. Satu per satu dicek, hanya wajah Bang Maman Suherman yang tidak kelihatan. Bang Mamang Suherman terjebak di dalam ruang perahu yang sudah terbalik. Pintu perahu menghadap ke bawah, ke dasar permukaan laut yang dalamnya antara 2 – 3 meter. Salah satu pelaut memanggil-manggil, Bang Maman langsung menjawab, “Ya.” Pelaut pun mengintruksikan Maman Suherman untuk keluar lewat pintu perahu. Untuk itu dia harus menyelam dulu. Karena ada banyak batang bambu yang terikat di perahu, proses keluar tidak berjalan lancar. Menurut Bang Maman, karena ada tas punggung di belakangnya, dia sempat tersangkut saat akan keluar. Dia pun melepas, tapi tas itu tersangkut lagi di kakinya. Akhirnya Maman Suherman bisa keluar.

Beberapa penduduk langsung berhamburan ke lokasi kejadian. Mereka membantu mengevakuasi penumpang, yang lain berusaha membalikkan perahu (yang masih dalam kondisi terapung, ada banyak udara terjebak di dalam ruang perahu). Proses membalikkan perahu tidak begitu lama. Beberapa masyarakat juga membantu memungut barang-barang yang terapung, baik milik penumpang maupun buku-buku dalam perahu.

Sebab tempat kejadian hanya berjarak 10 – 20 meter dari garis pantai, proses evakuasi mudah dilakukan. Karena beberapa dasar perairan berbatu karang (tajam), dua penumpang luka-luka kakinya, salah satunya Bang Maman Suherman. Juga ada luka lecet di punggung karena bergesekan dengan pintu atau bambu saat keluar dari lambung perahu.

Saat perahu berhasil dibalik, air dari dalam lambung perahu langsung dikeluarkan (ditimba menggunakan ember) oleh masyarakat yang membantu. Adapun korban berkumpul di balik tanggul, memulihkan kondisi, memeriksa gadget. Adapun saya tetap di garis pantai, memperhatikan proses evakuasi perahu sambil menenangkan anak saya yang nangis/shock.

Kejadian itu, atau proses dari terbalik hingga selesainya berlangsung kurang lebih setengah jam.

Ditulis oleh Muhammad Ridwan Alimuddin, pengelola Perahu Pustaka Pattingalloang

Advertisements

2 thoughts on “PENJELASAN TERBALIKNYA PERAHU PUSTAKA PATTINGALLOANG (1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s