Pelayaran ke Pulau Sagori

P_20160423_174457
Berlayar dari Desa Pambusuang Sulawesi Barat menuju Pulau Sagori Sulawesi Tenggara. Perahu Pustaka Pattingalloang diawaki tiga pelaut Mandar: Kamaq Alli, Anwar, dan Puaq Pia (23 April 2016)

Kami berlayar pulang, dari Pulau Sagori (Sulawesi Tenggara) ke Tanjung Bira (Sulawesi Selatan). Tanjung Bira hanya transit, sebagaimana Bulukumba, Makassar, dan Tanjung Lero. Tujuan akhir adalah Pambusuang, Sulawesi Barat.

Sekarang sekitar pukul 7 malam. Kami melintasi Teluk Bone. Kondisi laut malam ini cukup baik, berbeda ketika pelayaran sebaliknya, dari Tanjung Bira ke Pulau Sagori. Waktu itu saya tidak ikut, tapi menurut pelaut yang melayarkan Perahu Pustaka Pattingalloang (selanjutnya ditulis P3) dan Horst, ombak cukup besar dan angin dari arah haluan. Itu memaksa P3 ditonda oleh kapal motor yang juga menuju P. Sagori. Jika melihat tracking di GPS, memang betul ada hambatan, track yang dilalui P3 “bengkok”.

Sebagaimana pelayaran utama, yang berperan sebagai pengemudi adalah Kamaq Alli. Pelaut paling senior di antara kami. Puaq Pia dan Anwar ada di haluan, mengawasi bagian depan. Bulan gelap, praktis gelap gulita menyelimuti pelayaran P3. Senter sesekali diarahkan ke depan, siapa tahu ada batang kayu besar atau rumpon.

Saya duduk di buritan di samping Kamaq Alli, membuat tulisan ini menggunakan BlackBerry. Adapun Horst mengambil giliran istirahat, dia akan menggantikan posisi Kamaq Alli lewat tengah malam. Pelayaran ini lebih 100 km, butuh waktu lebih 12 jam. Untuk mengemudikan solo oleh satu orang mungkin bisa, tapi itu menyiksa. Kasian Kamaq Alli kalau tidak ada yang ganti. Kecuali saya, yang lain bisa jadi pengemudi meski tak ada yang asistensi di samping. Saya sih bisa juga, tapi tetap butuh pengawasan.

Mencatat “live” di lapangan menggunakan BlackBerry seingat saya terakhir saya lakukan di Ekspedisi Garis Depan Nusantara, 2009 lalu. Tapi yang paling intens mencatat “on the spot” adalah kala Ekspedisi Great Journey Mandar Jepang. Pelayaran dari Tarakan ke Sandakan Malaysia, saya cuma ikut berlayar di etape itu, tiap hari saya mencatat pakai BlackBerry. Itu pengalaman tersendiri yang mengesankan.

Berlayar malam melintas laut jarang-jarang dilakukan. Ada dua yang paling mengesankan. Pertama saat pelayaran pulang dari kegiatan berburu ikan terbang menggunakan sandeq. Itu terjadi di masa-masa awal riset saya tentang kebaharian Mandar. Kejadiannya 2001.

Begitu menegangkannya pelayaran waktu itu, bersama Kandaenna Rahma, pelaut dari Sabang Subik (beserta dua sawinya), saya sampai kencing di tempat. Pokoknya basah kuyup. Ombak besar, angin kencang. Saya tidak berani pindah tempat. Pokoknya baring di atas sandeq. Banyak kali dihempas ombak. Air seni terbilas sendiri. Tak tahan kedinginan, saya akhirnya masuk ke dalam lambung sandeq. Pertama kali dalam waktu lama di pelayaran itu. Masuk ke lambung sandeq yang dipakai berburu ikan terbang dan telurnya, siap-siap merasakan aroma ikan asing. Ya, itu bisa membuat muntah. Tapi itu saya abaikan, saya sudah tak tahan dingin. Sampai mengira akan hipotermia. Dalam lambung sudah ada satu sawi yang lelap. Meski sempit say sudah tak tahan, meringkuk dan terlelap. Bangun, kami ternyata menuju perairan Somba (lokasi penjual ikan terbang saat ini). Beberapa kilometer dari tujuan utama, Pambusuang. “Angin kencang sekali, kita Mengarah ke utara, ke Pamboang, lebih aman,” kata Kandaenna Rahma. Tiba jam empat subuh. Saya memilih turun, akan balik ke kampung lewat darat, ikut penjual ikan terbang.

Pengalaman kedua, jauh lebih beringas. Di Selat Karimata, antara Laut Cina Selatan di Utara dengan Laut Jawa di Selatan. Saat ini saya mengkoordinir pelayaran pinisi Cinta Laut dari Makassar ke Johor Malaysia. Sama, ombak besar angin kencang. Semua barang di dalam lambung perahu berhamburan. Jatuh. Untuk pertama kali saya mengenakan pelampung dalam pelayaran. Juga mabuk laut. Bukan cuma saya, tapi semua awak kapal. Tiang layar nyaris menyentuh permukaan laut. Kami semua pasrah. Mesin dimatikan, diombang-ambing ombak. Saya terlelap di koridor, capek bukan main. Syukurlah, menjelang pagi, angin reda. Kami lanjut ke Johor.

Mudah-mudahan pelayaran malam kali ini, yang melintasi atau melewati lautan Lepas, tak seperti dua kejadian di atas.

Gelap gulita mengiringi pelayaran tak berarti kami betul-betul buta. Ada Tiga parameter untuk memandu arah pelayaran. Pertama adalah kompas yang besarnya nyaris seperti piring makan, GPS dan bintang. Arah yang kami patok adala 260 derajat. Itu yang dijadikan haluan utama, menuju Tanjung Bira. Tadi diset saat baru meninggalkan Pulau Sagori.

Misal tak ada GPS dan kompas, rasi bintang “Tallu-tallu” bisa menjadi patokan. Letak rasi itu berada di barat. Jadi perhatikan saja posisi haluan kapal, apakah terus ke arah “tallu-tallu” atau tidak. Tapi harus menggunakan rasi bintang lain juga. Soalnya rasi “tallu-tallu” akan hilang pd jam tertentu. Jadi harus ada rasi pengganti. Yang masih kelihatan saat ini adalah “boyang kepang”, yang bisa jadi pedoman menentukan arah selatan. Sebenarnya msh ada beberapa rasi bintang lain, tapi waktunya kurang tepat mengganggu konsentrasi Kamaq Alli mengemudi.

:::

Sekarang lewat jam 12 malam. Pelayaran sudah memakan waktu lebih 7 jam, sudah lebih separuh. Menurut perkiraan GPS, kita akan tiba enam jam mendatang, sekitar pukul 6. Kecepatan rata-rata 5,5 knot atau kurang enam mil dalam 1 jam.

Berlayar malam, ada perlakuan khusus untuk pencahayaan di atas perahu. Cahaya intensitas tinggi mengganggu jarak pandang, khususnya bagi pengemudi dan jurubatu. Sumber cahaya atau pengadaan cahaya di atas perahu untuk hal penting-penting saja, yaitu cahaya yang bisa menjadi tanda dari jauh bahwa “di sana” (perahu yang kita gunakan) ada benda. Dengan kata lain, meski hanya setitik cahaya, awak kapal atau perahu lain bisa mengartikan bahwa di sana ada perahu lain.

Kedua adalah cahaya untuk kompas atau pedoman. Sebab arah di kompas dicek nyaris setiap menit, maka dia harus terlihat jelas oleh si jurumudi. Meski demikian, cahaya yang menimpa kompas dibuat remang-remang. Batas remang-remang adalah ketika usai melihat kompas, mata langsung bisa menyesuaikan dengan pandangan jauh. Jika mata terasa silau, atau butuh sekian detik penyesuain, berarti itu “over” cahaya. Utk pencahayaan kompas, tadi saya pasang lampu LED yang ada pada powerbank di sisi kompas. Sebab tergolong cahaya LED itu terang, agar remang-remang, saya gunakan bandana utk menutupi bagian kompas yang tak penting. Alias, yang kelihatan bagi jurumudi adalah sepertiga bagian kompas saja.

Sisanya, tak perlu ada cahaya lain. Agar tak menganggu, penggunaan senter sesekali saja. Lampu tanda di perahu pun tadi saya bungkus baju agar kerlap-kerlipnya tak mengganggu. Selainnya, sumber cahaya ada pd layar GPS dan BlackBerry ini. GPS berada di dalam lambung perahu, jadi tak mengganggu mata jurumudi. Sekalian menjadi alat penerang di dalam lambung perahu. Itu sudah cukup.

Sepertinya sudah hampir dua jam Horst menjadi jurumudi, menggantikan posisi Kamaq Alli yang saat ini sedang tidur. Mungkin satu dua jam ke depan mereka akan ganti posisi lagi. Meski Puaq Pia dan Anwar juga bisa mengemudi, untuk menjadi pengemudi utama tidak dilakukan sebab mereka bertugas sebagai jurubatu dan untuk isi bensin. Praktis mereka tak bisa istirahat lama. Istirahat pun mereka tetap waspada. Kadang mesin berbunyi dengan tanda tidak beres, itu harus segera diantisipasi.

Rasi bintang “tallu-tallu” sebagai tanda posisi Barat telah tenggelam. Saya tidak tahu jam berapa, yang jelas setengah sembilan lalu sudah mendekati horizon. Saya tadi tidur jadi tidak tahu jam berapa tak kelihatan lagi. Meski “tallu-tallu” tak bisa lagi menjadi tanda haluan, rasi bintang “boyang kepang” masih terlihat jelas di sisi kiri kapal. Posisinya berbeda dengan beberapa jam lalu, tapi sudut imajinernya tetap menunjuk arah ke Selatan. Artinya, posisi haluan masih bisa ditentukan meski tak ada “tallu-tallu”, meski tak ada kompas, meski tak ada GPS.

Pelaut dulu jelas paham menggunakan rasi bintang sebagai penunjuk arah. Pelayaran malam berhari-hari adalah alasannya. Praktis 12 jam mereka merekam ke dalam benak mereka posisi bintang dan perubahan-perubahannya. Ya, cobanya saya tidak sedang mengetik tulisan ini atau saya sdengan tidak tidur, apa yang saya lakukan (dan semua awak di atas perahu) adalah mengarahkan pandangan ke haluan, mengawasi apa yang ada di haluan dan mengamati bintang-bintang. Ini pelayaran semalam saja, yang tergolong cepat (sebab menggunakan mesin). Coba bandingkan pelayaran dulu yang paling banter kecepatannya separuh saja dengan kecepatan kami saat ini, yang berhari-hari, berminggu-minggu di lautan. Dan itu dilakukan selama bertahun-tahun. Itulah faktor utama mengapa pelaut-pelaut dulu sangat mahir menggunakan rasi bintang (dan tanda-tanda alam lain) dalam pelayaran mereka: mereka banyak sekali waktu melakukan perekaman, perenungan, perbandingan. Dan, itu dalam keadaan sunyi. Tidak ribut seperti saat ini. Berjarak sedepa, dua mesin berteriak-teriak. Jika kami bicara satu sama lain di ata perahu, kami juga teriak-teriak agar terdengar lawan bicara.

:::

Berlayar dari Tana Beru ke Makassar, Minggu 8 Mei 2016. Kami angkat sauh lewat pukul 3 dinihari. Lebih cepat lebih baik, pun cuaca mendukung. Nyaris tak ada ombak, angin “breeze” adanya, dan bisa tiba di Makassar saat masih terang. Saat P3 berlayar dari Galesong (bberapa km dr Makassar ke arah Selatan) menuju Bulukumba, tibanya sore hari. Sebab pelayaran balik saat ini menargetkan Makassar, maka harus berangkat lebih cepat. Sayangnya, mesin di sayap kanan mengalami masalah. Tadi dibongkar-bongkar, saat pasang lalu coba dinyalakan, tak hidup-hidup. Tak apa utk kondisi laut sekarang. Satu mesin yang aktif rata-rata kecepatan 5 knot, pakai 2 mesin kecepatan 6,5 knot. Hanya tambah lebih 1 knot, utk kondisi normal dan tak buru-buru, sepertinya tak signifikan. Juga, tak boros bensin.

Melintasi perairan bagian Selatan Sulawesi Selatan butuh perhatian ekstra, apalagi kalau berlayar dekat pantai. Di kawasan ini, khususnya antara Kota Bulukumba dengan Pulau Tanakeke, ribuan hektar budidaya rumput laut seakan menyegel garis pantai. Kecuali orang lokal atau nelayan pembudidaya rumput laut, yang lain tak tahu mana jalur aman menuju pantai. Jadi, kalau mau berlayar aman, jauh-jauhlah dari pantai, setidaknya 2 mil. Untung juga di GPS ada jejak tracking apa yang telah dilayari, jadi jadikan saja itu sebagai patokan kala berlayar balik.

Barusan layar dikembangkan, kecepatan bertambah, menyamai kecepatan jika menggunakan dua mesin. Hembusan angin darat, yang datang dr sisi kanan P3, membantu P3 bertambah kecepatannya.

Rute kali ini, kemungkinan didorong angin timur juga lebih besar. Kan sekarang sudah masuk musim timur, jadi angin dari arah buritan (belakang) akan mendorong kami. Beda waktu berlayar ke arah timur, angin dari depan.

Setiap pelayaran P3, saya terhitung sebagai punggawa. Tepatnya punggawa pottana (kadang diartikan juragan darat) yang sekaligus berperan sebagai punggawa posasiq (nakhoda). Sebagai punggawa posasiq, jangan dibayangkan sebagai sosok yang gagah memegang kemudi. Di pelayaran P3, kita ambil kasus saat ini, utk urusan pegang kemudi saya delegasikan ke Kamaq Alli. Saat berlayar, saya banyak berperan di “balik meja” (baca: di depan layar GPS), membantu sebagai navigator.

Yang tahu banyak soal GPS di P3 baru saya, Anwar belajar sedikit-sedikit. Dengan GPS, bisa ditentukan dengan akurat mana jalur aman dan cepat yang bs ditempuh. Kalau dekat karang atau arah menyimpang, saya memberi kode ke jurumudi. Saya bisanya pakai kata kanan dan kiri. Idealnya menyebut arah mata angin. Tapi agak susah istilah begitu bagi saya yang bukan pelaut asli. Kalau pelaut, mereka hafal mati mana barat, mana barat daya, timur, tenggara dan sebagainya. Tapi yang penting adalah pesan yang ingin saya sampaikan bisa diterjemahkan oleh si jurumudi. Atau kalau bukan kata, saya tinggal angkat tangan seperti gerakan hormat ala pasukan NAZI: tangan kanan dinaiikkan sambil menaikturunkkan sedikit dengan menunjuk arah yang akan dituju.

:::

Catatan di atas adalah catatan yang saya buat dalam pelayaran terjauh Perahu Pustaka Pattingalloang, dari Pambusuang menuju Pulau Sagori, balik laki. Total jarak tempuh lebih 1000 km. Jauh, nyaris setara 1/3 jarak Sabang – Merauke. Tak komplit catatan lapangannya, hanya fragmen-fragmen.

Pelayaran dimulai 24 April, menyusuri pesisir Teluk Mandar ke arah tenggara, menuju pesisir Sulawesi Selatan, dari utara ke selatan. Hari pertama singgah di Ujung Lero, tiba sore di sana. Keesokan harinya, 25 April, usai perbaikan sandeq Raja Laut, milik Horst, pelayaran dilanjutkan. Rencananya sih terus sampai di Makassar. Sebab terlambat berangkat, di hari kedua kami singgah di perairan Barru, beberapa kilometer sebelum Pancana. Subuh keesokan hari, 26 April pelayaran dilanjutkan sampai Makassar. Tiba sore di sana, berlabuh di area yang direklamasi, depan Pantai Losari.

Usai ikut talkshow di VE Channel dan menambah logistik di Makassar dan menyimpan sandeq Raja Laut di Pantai Barombong (tidak jadi diikutsertakan menuju Pulau Sagori sebab perbaikan di beberapa bagian belum sempurna), 27 April, Perahu Pustaka lanjut ke ujung paling selatan Pulau Sulawesi, menuju Bulukumba. Tiba menjelang maghrib, berlabuh di dekat taman kota. Agak repot menuju pantai, soalnya banyak sekali ladang rumput laut. Sejak melewati Pulau Tanakeke di Takalar, pantai-pantai di Kabupaten Takalar, Jeneponto, Bantang dan Bulukumba rawan didekati. Ya, ladang rumput laut (berupa tali yang dilintang-melintang sedemikian rupa) berbahaya, bisa merusak baling-baling. Jika laju perahu cepat saat terkait di tali ladang rumput laut, berpotensi membalikkan perahu. Jelas itu bukan hal yang diinginkan.

Di Kota Bulukumba kami disambut teman-teman komunitas baca di sana. Ada Muhammad Akbar dan Basmawati Haris serta Andhika Mappasomba. Kami dilayani dengan baik, dibantu menambah logistik. Esoknya, 28 April menuju sisi timur semenanjung Sulawesi Selatan, ke Pantai Bira. Masih Bulukumba. Pelayaran tidak memakan waktu lama. Kurang lima jam. Pantai Bira adalah tempat berlabuh terakhir sebelum menyeberangi Teluk Bone, menuju Pulau Sagori. Di Pantai Bira untuk sementara saya berpisah dengan Perahu Pustaka serta kru-krunya. Saya harus segera ke Jakarta, ikut rekaman acara Mata Najwa, Metro TV yang akan dilangsungkan esok malam, 29 April. Sebelum menuju Makassar, saya dibawa teman-teman Bulukumbu mendatangi perpustakaan Kucang Pustaka miliki Muhammad Akbar. Juga beberapa situs budaya dan sejarah di sana, termasuk tempat pembuatan perahu di Tana Beru. Itu berlangsung sampai malam. Sekira pukul 9 malam menuju Makassar menggunakan mobil ‘panter’.

Pagi 29 April terbang ke Jakarta. Saat tiba di hotel di Jakarta, disambut siaran tentang Perahu Pustaka di Liputan 6 Siang SCTV. Perahu Pustaka masuk kandidat Liputan 2 Award. Malamnya, ikut rekaman Mata Najwa bertemu Bukan Sekedar Membaca. Ikut serta sebagai pembicara di acara tersebut adalah saya, Ridwan Sururi (Kuda Pustaka), Aan Mansyur (sastrawan, aktivis literasi), Oki Mandasari (novelis, aktivis literasi), Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan, dan Maman Suherman (aktivits literasi, dewan penyantun Armada Pustaka). Usai rekaman, saya langsung ke bandara, segera balik ke Makassar. Sebab esok, 30 April ada diskusi dengan peserta Positive Youth Project yang diadakan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Usai acara, balik menuju Desa Pambusuang. Tidak langsung menuju Sulawesi Tenggara untuk gabung Perahu Pustaka.

Tanggal 3 Mei dengan menggunakan angkutan umum menuju Bone, tepatnya Labuang Bajo. Dengan kapal feri akan menyeberang ke Kolaka. Pelayaran makan waktu satu malam. Tiba sekitar pukul 3 dinihari, 4 Mei di Kolaka. Dijemput teman, Sirajuddin, lalu dibawa kekediamannya. Istirahat sejenak, sekitar pukul 8 pagi menuju Kota Bombana. Di situ akan bertemu Horst, yang juga menuju kota itu (dari Pulau Sagori) untuk mendrop para penyelam yang sudah melakukan kegiatan riset di Pulau Sagori. Menjelang siang, kapal motor yang disewa Horst sejak dari Pantai Bira (jadi ada dua kapal yang berlayar ke Pulau Sagori) kembali ke Pulau Kabaena. Tiba di sana sekitar pukul 7 malam. Perahu Pustaka tidak ada di situ, dia tetap tinggal di Pulau Sagori, beberapa mil dari Pulau Kabaena. Nanti keesokan paginya kami ke sana.

Tanggal 5 Mei saya kembali gabung dengan Perahu Pustaka Pattingalloang di Pulau Sagori, pulau yang didiami orang Bajau. Saya dua hari di Pulau Sagori, adapun Perahu Pustaka sudah lima hari. Semenjak Perahu Pustaka tiba di sana, gerakan gelar lapak buku langsung dilakukan kru Perahu Pustaka dibantu Horst Liebner. Kegiatan utama ke Pulau Sagori adalah kegiatan riset BPCB (Badan Pengelolaan Cagar Budaya) Sulawesi Selatan, Tenggara dan Barat mengenai kapal VOC yang tenggelam 300 tahun lalu. Lewat Horst, BPCB melakukan kerjasama dengan Perahu Pustaka Pattingalloang, yakni sebagai alat transportasi ke sana. Di sisi lain, Perahu Pustaka mendapat keuntungan sebab bisa melakukan kegiatan literasi di tempat jauh tanpa mengeluarkan biaya. Ongkos pelayaran ditanggung sepenuhnya oleh BPCB dan lembaga lain yang mendukung riset tersebut.

Tanggal 7 Mei sore Perahu Pustaka meninggalkan Pulau Sagori, berlayar ke arab barat, melintasi Teluk Bone, menuju Pantai Bira. Di pelayaran inilah catatan di atas saya buat. Pelayaran relatif lebih cepat dan aman sebab didorong angin Timur, beda waktu baru menuju ke Pulau Sagori. Tiba 8 Mei pagi Pantai Bira. Di sini Horst dan dua peneliti yang terlibat di riset akan menggunakan mobil menuju Makassar. Usai turunkan barang di Pelabuhan Bira, saya bersama Perahu Pustaka melanjutkan pelayaran pulang. Tak langsung ke Makassar, singgah di Tana Beru. Sebab ada bagian pengisian baterei/aki solar panel mengalami kerusakan, aki tak bisa terisi penuh. Di Tana Beru, dua aki yang dibawa Perahu Pustaka di-charge penuh. Aki digunakan untuk menyalakan GPS yang digunakan di Perahu Pustaka. Di Tana Beru juga saya manfaatkan bersuda dengan H. Jafar, salah satu ‘panrita lopi’ di Bulukumba.

Tanggal 8 Mei pagi, dari Tana Beru kami menuju Makassar. Tiba magrib di Pantai Losari Makassar. Dua hari di Makassar. Tanggal 9 Mei diisi dengan menambah logistik dan membawa kru Perahu Pustaka jalan-jalan atau berbelanja. Perahu Pustaka kembali berlayar menuju Mandar 10 Mei. Pelayaran diikuti oleh Arifin Nejaz, teman dari Tinambung. Menjelang sore, tiba di Pare-pare. Di sini Perahu Pustaka menggelar buku, ditemani teman-teman penggiat literasi di kota kelahiran Habibie tersebut. Kemudian pukul 9 malam, pelayaran dilanjutkan menunu Pambusuang. Berangkat lebih malam dengan perkiraan tiba terang atau pagi di Pambusuang. Resikonya, pelayaran sedikit lebih berbahaya. Angin lebih kencang dan jarak pandang terbatas. Meski besar gelombang saat memasuki Teluk Mandar, Perahu Pustaka Pattingalloang selamat tiba kembali di Pambusuang. Meninggalkan pantai ini 24 April, tiba 11 Mei 2016. Kurang 2 hari dari 20 hari.

Peta Pelayaran
Rute pelayaran dari Pambusuang ke Pulau Sagori dibuat oleh Horst Liebner.

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Pelayaran ke Pulau Sagori

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s