Sejarawan Belgia Jadi Pembicara di Nusa Pustaka

Diskusi mahasiswa Universitas Sulawesi Barat bersama sejarawan dari Belgia, David Van Reybrouck

Peristiwa pembantaian di Galung Lombok yang oleh masyarakat Mandar menyebutnya sebagai “panyapuang” adalah sejarah hitam di Mandar. Ratusan orang Mandar, baik pejuang maupun masyarakat sipil, tewas di kejadian yang terjadi pada 1 Februari 1947 tersebut.
“Pembunuhan masyarakat sipil di Galung Lombok tidak banyak diketahui masyarakat Eropa, khususnya, Belanda. Padahal peristiwa itu adalah salah satu kejahatan terbesar dalam perang. Dewasa ini, generasi muda di sana ingin mengetahui sejarah atau apa yang dilakukan pendahulu mereka di daerah jajahan,” demikian kata David Van Reybrouck, dalam Bahasa Inggris, saat diskusi bersama mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sulawesi Barat di Perpustakaan dan Museum Nusa Pustaka, Pambusuang 18 Februari.

David Van Reybrouck adalah seorang sejarawan dari Belgia. Dia juag penulis karya sastra non-fiksi, novel, puisi dan drama. Atas prestasinya di bidang penulisan, dia menerima banyak penghargaan di Belanda, seperti AKO Literature Prize dan Libris History Prize.
“Saya datang ke sini untuk mencari tahu apa yang dilakukan Pasukan Westerling pada masa tersebut. Beberapa hari ini saya telah bertemu dengan dua saksi mata. Mereka trauma, tapi tidak ingin balas dendam. Mereka mengharap, kejadian serupa tidak dialami generasi sekarang dan masa mendatang,” terang David akan tujuannya datang ke Mandar.

Di Eropa, David cukup terkenal. Bukunya tentang masyarakat dan sejarah Kongo (negara di Afrika) yang berjudul “Congo: The Epic History of a People” diterjemahkan ke dalam 12 bahasa asing. “Tapi buku itu tidak ada dalam Bahasa Inggris. Saya berharap, buku yang saya tulis tentang sejarah Indonesia di masa 1945 – 1949 saat ini bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia,” tutur David yang menyelesaikan pendidikan beberapa universitas terkemuka, diantaranya Universitas Cambridge di London dan Universitas Leiden di Belanda.
Melakukan diskusi atau tukar pikiran dengan peneliti atau ilmuwan asing sangat berharga dan jarang bisa terjadi di Sulawesi Barat. Hal tersebut yang mendorong dua dosen di Fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sulawesi Barat, Muhammad dan Farhanuddin, untuk mengajak mahasiswanya berdiskusi dengan David Van Reybrouck di Pambusuang. “Kuliah out door atau di luar kelas dengan dosen tamu peneliti asing diharapkan lebih memperkaya wawasan para mahasiswa, begitupula nanti bila di Mandar datang lagi tokoh, kita harap dapat berbagi ilmu dan pengalaman kepada mahasiswa,” kata Farhanuddin yang ikut mendampingi mahasiswanya di Nusa Pustaka.

Hal senada juga dikemukakan oleh Muhammad, bahwa baik dosen maupun mahasiswa harus membina jaringan dengan pihak luar. “Kita menyadari Unsulbar sebagai universitas baru. Untuk mengatasi beberapa keterbatasan, kita harus memaksimalkan peluang yang ada. Salah satunya kedatangan David, pengalamannya yang dibagi ke mahasiswa Unsulbar patut kita apresiasi,” kata Muhammad.

“Kegiatan diskusi ilmiah di Nusa Pustaka adalah salah satu agenda utama. Kegiatan tersebut kita tidak jadwalkan rutin, melainkan kita memanfaatkan bila ada tokoh atau sosok yang kebetulan ada di Mandar, kita ajak. Seperti kedatangan David ini, jika dilewatkan begitu saja padahal beliau seorang peneliti dan penulis handal, kita akan rugi. Nah ini nanti tanggal 20 Februari, kembali kita adakan diskusi tentang agama dan budaya dengan pembicara Prof. Ahmad Sewang,” ungkap Muhammad Ridwan, pengelola Perpustakaan dan Museum Nusa Pustaka.

Acara yang dimulai sekira pukul empat sore diakhiri dengan pemutaran film dokumenter “Pembantaia di Galung Lombok” yang dibuat Muhammad Ridwan.

Advertisements

Nusa Pustaka, Anak Bungsu Armada Pustaka

Proses pembangunan Nusa PustakaAktivitas literasi yang digerakkan oleh masyarakat nampaknya semakin berkembang di Sulawesi Barat, khususnya di Kabupaten Polewali Mandar.
Setelah mengenalkan Armada Pustaka yang terdiri dari Perahu Pustaka, Bendi Pustaka, Motor Pustaka dan Becak Pustaka tahun 2015 lalu, mantan jurnalis Radar Sulbar, Muhammad Ridwan dan kawan-kawan kembali akan meluncurkan perpustakaan yang sekaligus berfungsi sebagai museum bahari Mandar.
“Dua bulan terakhir ini kita dalam proses pembangunan Perpustakaan Museum Nusa Pustaka di Desa Pambusuang. Nusa Pustaka kita bangun untuk memperkuat gerakan literasi yang telah dilakukan Armada Pustaka. Sejak kita luncurkan Armada Pustaka Juni 2015 lalu, ada ribuan donasi buku yang masuk. Mengandalkan Armada Pustaka untuk membuka ruang baca ke masyarakat Sulawesi Barat, khususnya adik-adik kita, agak sulit sebab Armada Pustaka terbatas bawaannya,” kata Muhammad Ridwan, koordinator Armada Pustaka yang juga pendiri Nusa Pustaka.
Agar ribuan buku termanfaatkan secara maksimal, mudah diakses masyarakat yang ingin setiap saat membaca dan meminjam buku adalah tujuan utama pembangunan Nusa Pustaka. “Kita ingin menggalakkan juga tradisi pinjam meminjam buku. Dengan adanya Nusa Pustaka ini, itu bisa dilakukan. Koleksi buku kita ini cukup beragam dan menarik-menarik. Buku anak-anak banyak disumbangkan oleh beberapa selebritis di Jakarta,” tambah Ridwan di Pambusuang (2/2)
Perpustakaan Museum Nusa Pustaka melibatkan beberapa pemuda Desa Pambusuang, khususnya dari kalangan santri. Salah satunya adalah Urwa, yang juga secara aktif melakukan gerakan literasi, misalnya Sepeda Pustaka di Mamuju. “Mengapa kita jadikan Nusa Pustaka ini sebagai museum adalah agar adik-adik kita bisa juga lebih mengenal secara lebih mendalam tradisi nenek moyangnya, khususnya dari kebaharian,” terang Urwa.
“Museum dan perpustakaan adalah simbol peradaban, ciri majunya sebuah daerah atau masyarakat. Ya, memang ada ratusan perpustakaan di Sulawesi Barat, tapi pengelolaannya belum maksimal. Adapun museum kayaknya hanya ada satu, yaitu Museum Mandar di Majene. Memang ada di Mamuju tapi sepertinya itu belum difungsikan. Nah, di Pambusuang ini yang cocok, kebetulan itu juga belum ada di Sulawesi Barat, adalah museum bahari Mandar. Jadi di Nusa Pustaka ini akan kita koleksi bentuk-bentuk kebudayaan bahari Mandar, mulai perahu sampai teknologi penangkapannya,” jelas Ridwan yang juga dikenal sebagai peneliti bahari Mandar dan telah menulis beberapa buku kebaharian.
Saat ini Perpustakaan Museum Nusa Pustaka mengoleksi lebih lima ribu buku dan beberapa artefak kebaharian. Misalnya tiga unit sandeq, replika perahu, beberapa alat nelayan dan artefak-artefak bangkai perahu Mandar. “Akan ada puluhan koleksi budaya bahari di Nusa Pustaka. Belum semua dibawa ke sini sebab kita masih penyempurnaan bangunan. Sebagai awal kita fokus ke perbaikan perpustakaan, lalu museumnya. Tapi pada dasarnya itu satu kesatuan, sebab beberapa koleksi kita jadikan juga sebagai tempat buku. Misalnya perahu sandeq,” tambah Ridwan.
Masyarakat Pambusuang antusias menyambut Nusa Pustaka. Meski belum diluncurkan, beberapa pelajar setiap sore sudah datang ke Nusa Pustaka untuk membaca buku. Termasuk nelayan setempat. “Saya menyambut baik Nusa Pustaka. Kalau kita membaca di sini, banyak kita tahu, pengetahuan bertambah,” kata Ahmad yang akrab disapa Kamaq Ida yang selalu datang ke Nusa Pustaka sambil membawa anaknya.
“Terus terang kami cukup senang dan bahagia bisa berkontribusi ke daerah kita lewat Perpustakaan Museum Nusa Pustaka ini. Pertama, kita ingin memperlihatkan citra bahwa Sulawesi Barat itu khususnya Polewali Mandar tidak selalu identik dengan kemiskinan atau prilaku kriminalitas. Kedua, gerakan seperti ini tidak tidak perlu sampai membebani pemerintah daerah kita. Dalam arti, proses pembangunan selama ini kita tidak minta-minta. Kami ingin bersinergi atau memperlihatkan bahwa gerakan seperti ini bisa dilakukan tanpa harus mengandalkan dana dari pemerintah,” pungkas Ridwan yang merencanakan peluncuran Perpustakaan Museum Nusa Pustaka pertengahan Februari ini.

Mantan Menteri Hingga Pengusaha Lokal Bantu Armada Pustaka

Maman Suherman yang akrab disapa Kang Maman adalah salah satu tokoh yang banyak membantu mengenalkan gerakan literasi Armada Pustaka di Jakarta
Maman Suherman yang akrab disapa Kang Maman, sosok No Tulen di Indonesia Lawak Klub, adalah salah satu tokoh yang banyak mengenalkan gerakan literasi Armada Pustaka di tingkat nasional dan membantu pendonasian ke gerakan literasi tersebut

Gerakan literasi di Mandar mendapat apresiasi banyak pihak. Tidak hanya dari sesama aktivis literasi, tapi juga para pengusaha, baik tingkat nasional maupun lokal.
Salah satu gerakan literasi di Sulawesi Barat yang menjadi pionir perpustakaan bergerak adalah Armada Pustaka di Desa Pambusuang, Polewali Mandar. Armada Pustaka yang memiliki Perahu Pustaka, Motor Pustaka, Sepeda Pustaka, Bendi Pustaka dan Becak Pustaka menjadi tonggak gerakan literasi lokal yang menjadi perbincangan nasional. Beberapa stasiun televisi di pusat dan majalah nasional serta harian Jawa Pos telah membuat liputan tentang Armada Pustaka.
Mengetahui ada gerakan pustaka unik di Sulawesi Barat, mantan menteri Perindustrian dan Perdagangan Rachmat Gobel membantu proses pembuatan Perahu Pustaka ke-2 dan pelayaran Perahu Pustaka ke depan.
“Sebagai sahabat Pak Rachmat Gobel, saya mendapat bisikan darinya, semangat tebar virus literasi, mengajak anak-anak Indonesia di berbagai pelosok terpencil untuk rajin membaca, untuk mencintai buku, tidak boleh berhenti. Bagaimana sebuah bangsa bisa maju kalau rakyatnya tidak mau belajar , yang salah satu bentuknya adalah dengan membaca?,” kata Maman Suherman, tokoh pers nasional yang menfasilitasi dukungan Rachmat Gobel ke Armada Pustaka.
Maman Suherman yang dikenal publik lewat perannya sebagai notulen di Indonesia Lawak Klub menambahkan bahwa kegiatan Armada Pustaka ini harus didukung oleh siapa pun. Katanya, “Bukankah amanat UUD 1945 salah satunya adalah: mencerdaskan kehidupan bangsa?. Apa yang dilakukan Ridwan Alimuddin, saya dan kawan-kawan adalah wujud nyata mencerdaskan kehidupan bangsa itu.”
Selain Rachmat Gobel, tokoh pengusaha lokal juga memberi dukungan ke salah satu gerakan Armada Pustaka yang baru, yakni pembuatan Perpustakaan – Museum NUSA PUSTAKA, yaitu H. Syamsul. “Kegiatan seperti ini harus kita dukung. Kita sebagai pengusaha tidak hanya memikirkan bisnis semata, tapi juga pembangunan ummat. Apalagi gerakan ini dilakukan oleh orang Mandar. Nah kita sebagai orang Mandar harus memberi dukungan, sesuai peran dan kemampuan kita,” kata H. Syamsul yang dikenal sebagai pengusahan coklat bertaraf internasional dan Ketua Kamar dan Industri di Kabupaten Polewali Mandar saat bertandang ke Pambusuang menyaksikan proses pembangunan Nusa Pustaka (1/1).
“Kita sebagai pemuda mendukung penuh gerakan teman-teman di Pambusuang. Apa yang dilakukan H. Syamsul sangat menarik. Saya memperhatikan gerakannya selama ini juga membantu kegiatan keagamaan. Awalnya kan beliau mau bantu perluasan kuburan di Pambusuang, tapi karena sudah ada tanahnya, saya usulkan kepadanya bagaimana kalau membantu kegiatan literasi di Pambusuang. Selama ini saya perhatikan kegiatan teman-teman di media sosial, yang betul-betul serius dan terbukti murni adalah gerakan yang didukung santri di Pambusuang, yaitu Armada Pustaka,” kata Makmur, tokoh pemuda Allu ketika berkunjung ke Nusa Pustaka, yang juga mengharapkan makin banyak kader literasi tumbuh di Mandar.
Koordinator Armada Pustaka, Muhammad Ridwan Alimuddin mengapresiasi dukungan Rachmat Gobel, H. Syamsul dan pihak lain. “Gerakan Armada Pustaka didukung banyak pihak, baik di Sulawesi Barat maupun yang ada di Makassar maupun Jakarta. Sebagian besar masih dalam bentuk buku, untuk pendanaan belum begitu banyak. Makanya kita sangat berterima kasih bila ada dukungan materi sebab bagaimana pun operasional pelayaran itu cukup tinggi. Di sisi lain gerakan kita ini semuanya gratis, tidak ada pungutan biaya sepersen pun dan tidak ada bantuan pemerintah. Apalagi proses pembangunan perpustakaan dan museum Nusa Pustaka ini, kita cicil-cicil tergantung ada tidaknya bantuan dari pihak lain,” kata Ridwan, mantan jurnalis Radar Sulbar yang sekarang menggeluti dunia literasi.

Nakhodai Perahu Pustaka Bawa Empat Ribu Buku

Nusa-Pustaka

Muhammad Ridwan Alimuddin menebarkan kegemaran membaca di pesisir, daratan, sampai pegunungan. Tengah membangun museum yang sekaligus berfungsi sebagai perpustakaan. 

***

PELAT nama itu tertancap di pohon kelapa. Bunyinya: Nusa Pustaka, Perpustakaan Museum. Foto-foto yang menyertainya memperlihatkan sekelompok orang meriung dekat perahu yang berada di suatu halaman kosong.

Di atas semua foto yang terpampang di wall Facebook-nya kemarin (4/12) itu, Muhammad Ridwan Alimuddin menulis, “Koleksi pertama di halaman Nusa Pustaka, perpustakaan dan museum di Pambusuang.”

Itulah mimpi yang kini berusaha keras diwujudkan Ridwan untuk melengkapi ikhtiarnya menyebarkan virus literasi. Sebuah museum sekaligus perpustakaan di tempat tinggalnya, Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat.

Museum tersebut bakal dibangun dengan menggunakan bangkai perahu sandeq, jenis perahu tradisional bercadik khas setempat. “Di tempat itu nanti kami juga mengenalkan edukasi soal sandeq yang saat ini hampir punah,” kata Ridwan kepada Jawa Pos Group yang menemuinya di kediamannya Selasa lalu (1/12).

Pria kelahiran Tinambung pada 23 Desember 1978 tersebut mengungkapkan impiannya itu dengan penuh semangat. Matanya berbinar-binar, tangannya beberapa kali mengepal, dan intonasi suaranya sangat bertenaga.

Untuk menyebarkan kegemaran membaca, spirit dan tenaga pria yang sehari-hari bekerja sebagai penulis, fotografer, dan fixer film dokumenter itu memang selalu menyala. Dialah yang pada Juni lalu menakhodai Perahu Pustaka Pattingalloang melayari pulau-pulau kecil dan terpencil di pesisir barat Sulawesi. Sekitar empat ribu buku dibawanya kala itu. Separo di antaranya koleksi pribadi. Jenisnya beragam, mulai novel, komik, majalah, sampai buku pelajaran.

Dalam pelayaran menggunakan kapal jenis bago sepanjang 10 meter, diameter 2,5 meter, dan layar setinggi 10 meter tersebut, Ridwan dibantu tiga pelaut Mandar. Plus dua rekannya, As’ad serta Urwa. Mereka menyinggahi Polewali, Majene, Pulau Battoa, Pantai Bahari, Malunda, Sendana, Pamboang, hingga Bala Polman.

Bukan hanya di laut, di darat pun Ridwan menggerakkan motor pustaka yang khusus untuk daerah pegunungan hingga kampung terpencil. Juga becak, sepeda, dan bendi pustaka untuk kawasan tak jauh dari tempatnya berdomisili.

Dengan nada bicara merendah tapi raut yang memperlihatkan kelegaan, Ridwan mengenang bagaimana anak-anak, di pantai, daratan, maupun pegunungan, selalu menyambut armada pustakanya dengan antusias. “Jadi,” kata penulis buku Orang Mandar Orang Laut tersebut dengan nada suara kembali meninggi, “anak-anak kita itu sebenarnya minat bacanya tinggi. Hanya akses ke buku yang minim sekali.”

Tiap kali menepi bersama perahunya, rekan Ridwan, As’ad, akan membeber tikar sederhana. Lalu, kotak buku diturunkan, bacaan pun digelar. Anak-anak pesisir dengan penuh semangat menjamah buku-buku koleksi pustaka itu.

Pelayaran perahu tersebut juga dimanfaatkan Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat untuk menyosialisasikan pemilu yang ketika itu akan dihelat. Jadi, sembari membaca buku, anak-anak juga mendapat pengarahan sederhana dari Sukmawati, komisioner KPU yang mengikuti rombongan Ridwan.

Penggagas Perahu Pustaka Pattingalloang tersebut adalah Nirwan Ahmad Arsuka, budayawan kelahiran Barru, Sulawesi Selatan. Pelayaran pertamanya bertepatan dengan dimulainya Makassar International Writers Festival pada 3 Juni lalu.

Tiap kali singgah di sebuah tempat, Ridwan dkk meminta izin kepada guru sekolah setempat agar para murid diperbolehkan ke perahu. “Jadi sekalian edukasi maritim,” ucapnya.

Agar suasana santai, saat anak membaca, berbekal boneka sederhana, kru Perahu Pustaka biasa mendongeng. Atau membagikan cerita-cerita unik. “Hanya untuk menghibur. Agar tidak jenuh saat membaca,” tutur penulis buku Sandeq Perahu Tercepat Nusantara tersebut.

Pada akhirnya, bukan hanya anak-anak yang mengerumuni mereka, tapi juga orang-orang dewasa. Ketika harus bermalam di tempat yang disinggahi, kru perahu juga menayangkan film dokumenter tentang perahu sandeq dengan peralatan seadanya. Di Malunda, misalnya, mereka memanfaatkan layar dari spanduk.

Setelah selesai, Ridwan dkk akan menginap di perahu. Esoknya mereka bergegas ke tujuan berikutnya. Untuk sekali pelayaran selama seminggu, Ridwan harus mengeluarkan biaya Rp 3 juta. Termasuk untuk membayar pelaut yang ikut. “Kami sepakat bayaran mereka Rp 100 ribu per hari. Untungnya ada sisa (uang) dari kegiatan di Makassar beberapa waktu lalu yang cukup untuk tiga kali pelayaran,” ungkapnya.

Biaya armada pustaka yang di darat jauh lebih murah. Misalnya, untuk bendi pustaka, hanya dibutuhkan Rp 50 ribu untuk bisa sampai berkali-kali mengunjungi pelbagai tempat. Kendati mahal, Perahu Pustaka diakui Ridwan sangat penting sebagai ikon gerakan literasi. “Jangan dilihat borosnya, tapi dampaknya,” tutur dia.

Karena itu, pada Maret April tahun depan, dia bakal membawa Perahu Pustaka kembali berlayar. Dengan suntikan donasi dari mantan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel, yang dituju adalah Kepulauan Spermonde, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Selain dari Rachmat, Ridwan mendapat sumbangan dari beberapa donatur lain. Selain tentu dia juga harus menyisihkan sebagian pendapatan pribadi sebagai penulis, fotografer, dan fixer film dokumenter.

Donasi tak hanya berupa uang, tapi juga buku. Di hari yang sama kemarin, misalnya, Ridwan juga menulis ucapan terima kasih di Facebook-nya kepada Perpustakaan Kaltim di Samarinda. Status tersebut disertai foto beberapa kardus berisi buku.

Dukungan dari berbagai pihak itulah yang turut menyemangati Ridwan untuk terus menyebarkan virus literasi ke berbagai tempat yang mampu dia jangkau. “Saya percaya, hanya dengan banyak membaca, kita bisa menaruh harapan pada generasi mendatang” tegasnya. (Ilham Wasi/Polewali Mandar/JPG/c9/ttg/JPG/r10)

Dimuat di Jawa Pos dan beberapa jaringannya, seperti Lombok Pos pada 5 Desember 2015

Dari Perahu, Becak, Motor, Ridwan Sulap Jadi Pustaka

becak-pustaka

Semakin banyak orang yang membaca, makin banyak pula ilmu tersebar. Itulah yang dilakukan Muhammad Ridwan Alimuddin, lelaki kelahiran, Tinambung, 23 Desember 1978, tak hanya buat perahu Pustaka, akan tetapi becak pun disulap jadi becak pustaka.

Becak pustaka itu kata Ridwan, bila Perahu Pustaka itu jangkaunnya di pesisir dan pulau kecil, sedangkan Becak Pustaka disiapkan untuk kampung halamannya, di Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat.

“Agak aneh rasanya kalau anak-anak di pulau kecil dan tempat lain kita ajak anak-anak baca buku, tapi di lingkungan sendiri tak diajak,” ujarnya.

Becak pustaka ini akan menyasar sekolah dasar (SD) pada jam istirahat dan sore hari. “Kalau sekolah rencana pukul 08.00-10.00 wita, dan pulang sekolah pukul 15.30-17.30 wita,” ungkapnya.

Becak pustaka ini akan mampir di empat desa di Kecamatan Balanipa, Polman, Sulbar, yaitu Desa Galung Tulu, Sabang Subik, Pambusuang, dan Bala. “Tiap hari desa ini akan digilir,” ujarnya.

Tak hanya itu, Ridwan juga tengah menyiapkan Motor Pustaka. Motor pustaka ini akan mengjangkau daerah pengunungan, kampung terpencil. Jadi, lengkaplah Perahu pustaka, Becak Pustaka dan Motor Pustaka, dan Bendi Pustaka Paqissangang, ala Muhammad Rahmat Muchtar. (ham)

Dimuat di Fajar Online

Perahupustaka Menyediakan Buku ke Pulau-pulau

Foto di BBC

Oleh: Christine Franciska – @cfranciska
Producer BBC Indonesia

Bagi para nelayan setempat, perahu ibarat anak.
Sebuah inisiatif bernama Perahupustaka diluncurkan untuk menyediakan buku bacaan bagi anak-anak di pulau-pulau kecil di Teluk Makassar.
Muhammad Ridwan Alimuddin, 36, salah satu inisiatornya mengatakan ide ini diawali dari percakapan di Twitter bersama Nirwan Ahmad Arsuka pada April lalu.
“Dari situ, saya cari informasi perahu apa yang cocok untuk dibuat perpustakaan. Saya lalu memutuskan untuk membuat perahu ba’go,” ujarnya yang telah melakukan riset kemaritiman tradisional selama 17 tahun.
“Jenis perahu ini kalau masuk sungai lebih aman, lambung lebar dan tidak khawatir kandas. Beda dengan perahu sekarang yang butuh kecepatan dan ramping.”

Muhammad Ridwan, salah satu inisiator Perahupustaka.
Dengan bantuan para donator, Ridwan dan para nelayan di Polewali Mandar berhasil membuat perahu dan melakukan ujicoba dalam beberapa hari terakhir.
Bagi para nelayan Mandar, perahu ibarat anak dan mengikuti proses pembuatannya merupakan pengalaman yang luar biasa bagi Ridwan.
“Tidak sembarang waktunya untuk kerja perahu, ada hitungan. Saya cari kayu jenis Tipuluh di hutan, setelah ditebang, tunggu kering, kemudian mulai upacara untuk membuat perahu,” cerita Ridwan kepada wartawan BBC Indonesia, Christine Franciska.
Berhenti kerja
Dia mengakui bahwa program Perahupustaka barulah dalam tahap awal dan biaya operasional akan menjadi tantangan ke depan.

Perahupustaka akan melakukan uji coba dalam beberapa hari ke depan.
Namun dia mengaku percaya diri dan bertekad untuk mundur dari pekerjaannya sebagai jurnalis. “Memang agak susah untuk menjadikan ini sebagai sumber ekonomi.
Tetapi saya sudah lama mempelajari cara hidup nelayan-nelayan Mandar, mereka bisa hidup (dengan perahu) kenapa saya tidak?”
Perahupustaka diharapkan dapat melakukan uji coba dalam beberapa hari ke depan untuk melakukan evaluasi.

Yang diperlukan dalam gerakan literasi ini adalah mitra lokal, kata Nirwan.
“Setahu saya ini pertama kali di Indonesia, jadi butuh melihat di lapangan seperti apa. Tapi perkiraan akan muat sekitar 5.000 buku dan diutamakan buku anak-anak.”
Nirwan Arsuka yang menjadi salah satu donator mengatakan memang mustahil satu atau dua perahu bisa menjangkau banyaknya pulau-pulau kecil di Indonesia.
Namun yang diperlukan dalam gerakan-gerakan literasi ini adalah mitra lokal untuk mewujudkannya.
“Karena tanpa mereka gagasan hanya menjadi gagasan. Saya bukan satu-satunya yang punya ide ini. Pertemuan dengan kawan-kawan akhirnya bisa mewujudkan program yang bisa diberikan bagi masyarakat,” katanya dalam acara Makassar International Writers Festival, Rabu (03/06).

Sumber: bbc.com, 4 Juni 2015

http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2015/06/150603_perahu_pustaka