Perahu Pustaka, Misi Edukasi Perahu Tradisional Mandar

Ptroses pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang (Foto: Dahri Dahlan)
Ptroses pembuatan Perahu Pustaka Pattingalloang (Foto: Dahri Dahlan)

Oleh: Indra J Mae

KABARKAMI. Sebuah perahu tradisional khas Mandar kembali diangkat kepermukaan sebagai simbol pelestarian tradisi dan budaya lokal di Sulawesi Barat. Perahu yang dibuat khusus ini merupakan swadaya dari komunitas budaya setempat dibantu masyarakat dalam rangka mendukung program pengembangan pendidikan sosial lokal.
Kehadiran karya ini tentu menambah referensi dan informasi baru yang sangat berharga mengenai fungsi sebuah pelestarian tradisi dalam mendukung edukasi budaya dan kearifan lokal di Sulawesi Barat.
Perahu yang diberi nama Patingalloang ini berbalut misi yang unik yakni sebagai pendukung media pembelajaran, sekaligus media pencerahan. Ia diberi status “Perahu Pustaka”, perahu yang di orientasikan memfasilitasi minat masyarakat umum untuk belajar khususnya tentang budaya dan tradisi Mandar.

Proses awalnya adalah digelarnya upacara ritual pembuatan perahu, berlokasi di Baqba Toa, Lapeo, Campalagiang. Upacara awal pembuatan perahu dimulai dengan penyambungan lunas (batang utama perahu) diiringi dengan doa keselamatan. Semua proses upacaranya sarat dengan makna yang menyimbolkan pada kesuburan, limpahan rezeki, kekuatan dan penyerahan kepada kekuatan yang maha kuasa.
Penggunaan simbol-simbol dalam kebudayaan Mandar diistilahkan “ussul”, mulai dari menyentuhkan ujung “pamarung” ke puting susu dengan fungsi makanan berlemak dan yang manis. Konstruksi penyambungan yang menyimbolkan penis dan vagina, hingga penggunaan alat-alat baru. “Ussul” bisa diciptakan sendiri atau dikembangkan, misalnya si pemilik perahu terlibat dalam proses pembuatan dengan menggunakan sarung baru maka “Ussul-nya”, dengan menggunakan sarung ini, ke depan, si pemilik perahu bisa terlibat mulai dari awal sampai akhir hingga penggunaan Perahu.

Pelengkap upacara ritualnya berupa adonan di atas piring yang berisikan parutan kelapa, gula merah, air tawar dari guci (untuk air minum), dimana sebuah emas akan dibilaskan dengan air itu. Adonan atau cairan itu menyimbolkan kesuburan dan fungsi sperma saat persetubuhan.
Bagian utama perahu Pustaka “Pattingalloang I” berupa Tiga batang kayu utama disambung. Haluan dan buritan namanya “pamarung” (bagian yang bengkok), itu simbol laki2. Kemudian pada bagian yang lurus disebut lunas (simbol perempuan). Materialnya adalah kayu nyamuk, sekelas kayu besi/ulin, didatangkan khusus dari Kalimantan, sedang material untuk pamarungnya adalah jenis kayu jati.

Awal Juni, perahu Pustaka Pattingalloang I akan diperkenalkan ke publik hingga ke kota Makassar, dalam sebuah perhelatan khusus sesuai misi edukasinya.

Sumber: kabarkami.com, April 26, 2015 AT 10:03 AM

http://www.kabarkami.com/perahu-pustaka-misi-edukasi-perahu-tradisional-mandar.html

Advertisements

Perahu Pustaka Berlayar Mengarungi Dunia Baca Makassar

Nirwan Arsuka adalah inisiator Perahu Pustaka, Muhammad Ridwan pustakawan yang juga nakhoda Perahu Pustaka Pattingalloang. Perahu Pustaka saat masih dalam proses pembuatan di Desa Lapeo Polewali Mandar Sulawesi Barat
Nirwan Arsuka adalah inisiator Perahu Pustaka, Muhammad Ridwan pustakawan yang juga nakhoda Perahu Pustaka Pattingalloang. Perahu Pustaka saat masih dalam proses pembuatan di Desa Lapeo Polewali Mandar Sulawesi Barat

Oleh: Rizky Sekar Afrisia

Perahu Pustaka di Makassar untuk membangkitkan minat baca generasi muda. (ANTARA FOTO/Herman Dewantoro)
Jakarta, CNN Indonesia — Perahu yang dibuat seorang nakhoda sekaligus pembuat kapal asal Makassar siap berlayar, pada Rabu (3/6) sore ini. Ia akan mengarungi pulau-pulau kecil di sekitar Makassar, mengunjungi Samalona, dan merambat ke timur Sulawesi.

Perahu itu membawa muatan spesial. Yang jelas bukan penumpang. “Bedanya dengan perahu Makassar biasa, ini membawa buku. Lebih dari lima ribu buku,” kata Kian Savero Adityansyah, perwakilan Makassar International Writers Festival (MIWF) saat dihubungi CNN Indonesia.

Perahu yang dibangun awal 2015 itu diberi nama Perahu Pustaka. Pembuatannya terinspirasi Kuda Pustaka di Jawa Timur, semacam perpustakaan berjalan yang mendatangi warga-warga di daerah terpencil. Karena Makassar lebih banyak kepulauan, perpustakaan dibuat di perairan.

Pilihan Redaksi
Erotisme ‘Fifty Shades of Grey’ dari Sisi Pria
Ayah, Hasil Penantian Panjang Andrea Hirata
Pergumulan Sastra dan Internet Lahirkan Bakat Muda
“Kami ingin membuat sesuatu yang berbeda di MIWF tahun ini, lalu terinspirasi Kuda Pustaka di Jawa Timur. Karena Makassar kepulauan, dibuatlah kapal. Kebetulan nakhodanya juga suka membaca,” kata Kian menjelaskan. Tujuannya menciptakan generasi suka membaca.

Ia membeberkan, selama ini warga kepulauan Makassar sulit mengakses buku. Yang ada hanya buku-buku pelajaran. “Mereka enggak mengerti mau beli buku di mana, pinjam buku di mana,” tuturnya. Toko buku hanya ada di tengah kota.

Karena itulah Perahu Pustaka penting. Ia berlayar membawa ribuan buku setiap hari. Jika ada yang ingin meminjam buku, perahu akan kembali satu atau dua minggu kemudian. Pelayaran diteruskan sampai setahun lamanya.

Buku yang dimuat Perahu Pustaka kebanyakan bacaan ringan. Mulai buku anak, majalah, sampai novel yang mudah dicerna. Sasarannya memang generasi muda, sehingga tak diberi buku yang terlalu berat dibaca. “Menurut data, hanya satu dari 10 ribu anak di Indonesia yang suka membaca,” ujar Kian dengan prihatin.

Sesekali, Perahu Pustaka akan membawa penulis yang ingin berinteraksi langsung dengan warga terpencil Makassar. Diharapkan itu menjadi pancingan yang menarik bagi masyarakat.

Perahu Pustaka itu diluncurkan sebagai pengawal kegiatan tahunan MIWF 2015, yang berlangsung 3 sampai 6 Juni. Festival sastra itu akan dihadiri 60 sastrawan dari 20 negara. “Tahun lalu 30, jadi tahun ini ada peningkatan dua kali lipat,” ucap Kian menyebutkan.

Dari dalam negeri, sastrawan Leila S. Chudori, Seno Gumira Ajidarma, Oka Rusmini, dan penulis perjalanan Trinity. Novelis grafis Belanda Peter van Dongen, kartunis Australia Rolf Heimann, sampai peneliti jurnalistik Janet Steele dari Amerika Serikat pun hadir.

Dalam keterangan pers yang diterima CNN Indonesia, akan ada diskusi, seminar, pembacaan karya, juga pentas musik, tari, dan seni rupa dalam ajang itu. Makassar juga menjadi ajang peluncuran novel Pulang Leila S. Chudori yang berbahasa Inggris, sebelum dibawa ke Frankfurt Book Fair Oktober mendatang.

MIWF tahun ini mengusung tema kedaerahan yang unik. Sosok Karaeng Pattingaloang diangkat sebagai wujud ilmu pengetahuan dan semesta. Ia adalah tokoh dari Kerajaan Gowa abad ke-17.

“Dia mencintai alam dan ilmu pengetahuan. Dia mau lihat bintang, penasaran bagaimana caranya. Oh, pakai teleskop. Dia pesan teleskop ke Galileo. Butuh tujuh tahun untuk sampai ke Indonesia,” kata Kian bercerita. Semangat itulah yang berdetak di jantung MIWF.

Sumber:

CNN Indonesia Rabu, 03/06/2015 15:17 WIB

http://www.cnnindonesia.com/hiburan/20150603111741-241-57287/perahu-pustaka-berlayar-mengarungi-dunia-baca-makassar/

Perahu Pustaka Pattingalloang, Si Penebar Ilmu di Pulau-pulau Sulsel

102307_kapalpustaka

Muhammad Nur Abdurrahman – detiknews

Makassar – Selama ini program berbagi buku hanya sering digelar di perkotaan dan belum dirasakan masyarakat yang tinggal di kepulauan. Di Sulawesi Selatan, kini hadir perahu pustaka yang menebar ilmu hingga ke pulau-pulau.

Selama ini, program filantropi berbagi buku di pulau-pulau masih asing di telinga. Terkhusus minimnya karya sastra yang berbau “laut”, padahal Indonesia adalah negara maritim.

Berangkat dari persoalan ini, kemudian memancing ide Nirwan Ahmad Arsuka, budayawan kelahiran Barru, Sulsel, bersama peneliti maritim asal Mandar, Ridwan Alimuddin dan Kamaruddin Aziz, mantan Ketua Ikatan Sarjana Kelautan Univ. Hasanuddin untuk menggagas program berbagi buku di masyarakat kepulauan yang ada di sekitar kepulauan Spermonde, Makassar, serta pulau-pulau di kab. Pangkep, Sulawesi Selatan, sekaligus berupaya membangun kembali kebudayaan maritim di tanah air.

Ridwan yang ditemui detikcom di sekitar arena Makassar International Writers Festival, di Benteng Fort Rotterdam, Makassar, menyebutkan bahwa Perahu Pustaka Pattingalloang merupakan perahu layar dengan bantuan mesin motor, dibuat khusus oleh pembuat perahu Mandar di Majene, Sulawesi Barat. Perahu ini berdimensi panjang 10 meter dan lebar tengah perahu 2,5 meter.

Setelah rampung, Perahu Pustaka ini kemudian berlayar dari Majene menuju Makassar dengan mengangkut 10 orang untuk meramaikan festival penulis internasional MIWF 2015. Perahu ini kemudian berlabuh di pantai depan benteng Fort Rotterdam.

Perahu layar jenis ba’go ini kemudian diberi nama perahu pusaka Pattingalloang, yang merupakan nama Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, perdana menteri kerajaan Gowa-Tallo yang juga terkenal sangat menggemari ilmu pengetahuan di era 1600-an.

“Dana pembuatan perahu dari kantong pribadi budayawan Nirwan Arsuka, sisa biaya pembuatannya kemudian dibelikan buku, beberapa di antaranya merupakan buku sumbangan dari para dermawan,” ujar Ridwan yang pernah menulis buku ‘Orang Mandar Orang Laut’ ini.

Ridwan menambahkan, saat ini sudah terkumpul sekitar 200 buku bertema umum, yang di antaranya merupakan sumbangan buku-buku sastra populer dari Maman Suherman, penulis novel dan pembawa acara yang ikut meramaikan MIWF 2015.

Rencananya hari ini, Perahu Pustaka Pattingalloang akan berlayar di sekitar kepulauan Spermonde untuk membagi-bagikan buku ke warga yang tinggal di pulau.

“Kami berharap kalau ada dermawan mau menyumbang buku, akan lebih baik bila buku bacaan anak yang disumbangkan agar tepat sasaran, yakni anak-anak usia sekolah yang tinggal di pulau-pulau, atau bisa mengirim dana sumbangan, nanti kami yang belikan bukunya,” pungkas Ridwan.

Program Berbagi Pustaka ini sebelumnya digagas Ridwan Sururi, pada 2014 dengan menggunakan kuda, di sekitar kaki Gunung Slamet. Program ini dinamai kemudian Kuda Pustaka yang kini dijalankan oleh Ridwan Sururi yang menunggang seekor kuda membagi-bagikan buku ke masyarakat sekitar kaki gunung Slamet dan beberapa tempat lainnya.

(mna/mad)

Sumber: detik.com, 6 Juni 2015

http://news.detik.com/berita/2935030/perahu-pustaka-pattingalloang-si-penebar-ilmu-di-pulau-pulau-sulsel

Dari Pattado Jonga sampai Pattingalloang

Nirwan Arsuka (baju putih) mengobrolkan inisiatif Perahu Pustaka. (Foto: Iqbal Lubis)
Nirwan Arsuka (baju putih) mengobrolkan inisiatif Perahu Pustaka. (Foto: Iqbal Lubis)

Oleh: Anwar Jimpe Rachman

Berawal dari kesannya pada kanak-kanak selama sebuah proyek perjalanan berkuda melintas pulau tahun 2014 lalu, Nirwan Ahmad Arsuka kemudian berniat membangun perpustakaan yang berkeliling menyebarkan buku untuk anak-anak yang berada di daerah yang sulit dijangkau.

Maka lahirlah: Kuda Pustaka. Bentuknya: dua kotak di pinggang seekor kuda yang berkeliling membawa buku bacaan untuk anak-anak di kawasan Gunung Slamet. Kini inisiatif itu memasuki rupa kedua: perpustakaan di atas perahu.

Inisiatif itu lalu dinamai Perahu Pustaka. Ia mengontak tiga temannya yang dianggap bisa terlibat di rencana ini: Ridwan Alimuddin, seorang peneliti kelautan dan bermukim di Mandar; Kamaruddin Azis (Daeng Nuntung), mantan Ketua ISLA (Ikatan Sarjana Kelautan Unhas), dan saya yang biasa sibuk di Kampung Buku, Makassar. Tapi dua orang disebut pertama cukup sibuk. Hanya saya, kata Nirwan, yang sempat membalas pesan-pesannya yang dikirim.

Begitu Ridwan dan Daeng Nuntung leluasa, rencana pun dipancang. Percakapan lewat Whatsapp dan saling sapa via Twitter munculkan pertanyaan seperti “mau dilayarkan ke mana?”.

“Kita sepakat ketika itu memilih perahu yang bisa mengangkut buku banyak dan stabil di perairan. Satu lagi, harus murah karena ini tidak didanai oleh siapa-siapa,” ujar Nirwan, dalam obrolan pertengahan pekan ketiga Mei 2015.

Lalu bincangan itu membulatkan rencana memakai perahu ba’go, jenis kargo tradisional pelaut jazirah selatan Sulawesi. Berdasarkan penelusuran sejarah transportasi di Selat Sulawesi yang dilakukan Ridwan, model perahu ini biasa dipakai mengangkut beras sampai ke seberang pulau sekitar Selat Sulawesi.

Ridwan lantas menyerahkan dana titipan Nirwan kepada seorang pembuat perahu di Lapeo, Mandar, untuk mulai rencana ini. Lalu dibangunlah sebuah ba’go dengan dimensi 10 meter dan bagian tengah 2,5 meter.

Pembuatannya dikebut sebulanan saja. Harus jadi begitu matahari terakhir bulan Mei terbenam. Karena perahu yang dinamai “Pattingalloang”, nama pendek I Mangngadaccinna Daeng I Ba’le’ Sultan Mahmud Karaeng Pattingalloang, perdana menteri Kerajaan Gowa yang tersohor karena kegilaannya pada ilmu pengetahuan, mesti berlayar dan ingin memeriahkan MIWF, festival internasional penulis yang digelar lima tahun terakhir di Makassar.

Menurut Nirwan, perahu ba’go memang sudah terganti oleh yang model yang lebih modern. Tapi celah yang bisa diambil adalah upaya ini sebagai cara menghidupkan jenis perahu yang sudah lama tidak dipakai, termasuk tahap-tahap upacara selama pembangunan perahu. (Keterangan Nirwan ini mengingat saya pada upaya ‘rekayasa’ dalam sandeq race yang pernah disampaikan Horst Liebner dan Ridwan Alimuddin beberapa tahun lalu. Keduanya menyebut, gagasan pacu sandeq juga sebagai cara menggenjot evolusi/revolusi perahu nelayan Mandar yang terkenal kencang itu supaya makin cepat. Para peserta lomba, kata Horst, akan berpikir keras bagaimana agar mereka bisa menang dalam pacuan itu dengan mengubah bagian tertentu perahu.)

“Dengan upaya ini sebenarnya kita bukan cuma sebar pustaka, tapi membangun kebudayaan maritim. Perahu ini membuka kemungkinan bagi penulis untuk ikut berlayar dalam waktu tertentu. Dengan begitu, teks-teks tentang laut akan ditulis dan diproduksi. Dengan begitu khasanah sastra kita bisa bertambah dengan sudut pandang orang laut. Ini investasi kultural,” tegas Nirwan.

Tak banyak teks-teks sastra yang berbau laut. Di khasanah sastra dunia, dua yang mengemuka dari itu adalah Moby Dick karya Herman Melville dan The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway. Di Indonesia sendiri, Nirwan menyebut masih sebatas pandangan “orang darat“ tentang “laut”. Roman Arus Balik karya Pramoedya Ananta Toer, sebut Nirwan, menunjukkan perspektif itu. “Dari Asia, jangan-jangan memang sastra laut kurang?”

Ini bisa juga terbaca dari anggapan orang Indonesia bahwa sungai dan laut—sebagai elemen tak terpisahkan dari kebudayaan maritim yang didengungkan selama ini—masih dipandang sebagai sumber bencana, seperti banjir dan tsunami.

Ibrahim, seorang kawan yang ikut menyimak obrolan malam itu, membenarkan pernyataan Nirwan. Ia menyebutkan bahwa selama ini ketika berbicara tentang perairan, yang muncul justru sudut pandang eksploitasi ekonomi. “Selama ini, hampir semua kasus di pesisir warga kalah. Itu mungkin karena tidak ada teks kehidupan tentang perairan. Padahal, konon, laut bagi suku Bajo juga menjadi ranah penting berkaitan reproduksi (hubungan suami-istri),” kata Ibrahim, yang sehari-harinya sebagai pengacara.

PERAHU PUSTAKA adalah rupa kedua setelah inisiatif pertama Kuda Pustaka. Cikal bakal Kuda Pustaka berawal dari perjalanan berkuda Nirwan dari Ujung Kulon (Banten) menuju Bali. Tapi lantaran alasan tertentu, ekspedisi ini hanya sampai 10 hari. Akan ia lanjutkan lagi di paruh akhir tahun 2015.

Dalam perjalanannya, Nirwan melihat ‘anak-anak’ merupakan hal mencolok dari beberapa soal yang mencuri perhatiannya. Anak-anaklah yang banyak menjawab pertanyaan-pertanyaannya selama perjalanan. Orang dewasa justru memasang tampang curiga. Mungkin, kata Nirwan, mereka baru melihat ada yang berkuda menempuh perjalanan jauh.

Ia lantas bertemu Ridwan Sururi, tukang ojek kuda di kawasan wisata daerah Gunung Slamet, Jawa Tengah. Ridwan inilah kemudian menggerakkan Kuda Pustaka hingga sekarang. Sejak Januari hingga awal Mei 2015, Kuda Pustaka baru punya seekor. Tapi dua mingguan kemudian, Ridwan sudah berkeliling memakai dua kuda; satu bawa buku, satunya lagi sebagai tunggangan.

Ketika BBC dan Getty Images menurunkan laporan tentang Kuda Pustaka, respons media Indonesia baru bermunculan. Tanggapan publik juga bertambah.

Apakah ini sebentuk pandangan eksotisme dari media-media luar? “Saya kira iya. Itu tidak bisa kita hindari. Sebenarnya lebih bagus kalau dia kirim buku ketimbang dibicarakan begitu. Tapi itu setidaknya siapa tahu ada yang terinspirasi juga melihat itu. Dan ini juga bukanlah pertama kali di dunia. Ada beberapa praktik seperti buku yang dibawa keledai di satu negara di Amerika Latin.”

Inisiatif seperti ini faktornya bukan soal dana. Andai, kata Nirwan, ada dana banyak dan bisa membeli semacam pinisi, itu bukanlah jalan terbaik. Soalnya adalah biaya pemeliharaan yang tinggi. Tiap tahun harus masuk dok dan biaya sewa doknya tidak murah.

Yang terpenting juga inisiatif ini ada yang menjaga. Ridwan berikutnya, Ridwan Alimuddin, akan berlabuh di pesisir sekitar Mandar dan daerah lain di sepanjang Selat Makassar. Belakangan, dalam satu pertemuan saya dengan Ridwan, dia berencana membeli bendi keperluan serupa.

PERHATIAN NIRWAN beberapa tahun terakhir teralih ke kuda. Awalnya, sepengetahuan saya dalam dua tahun terakhir, lelaki kelahiran Barru (Sulawesi Selatan) ini menyigi ekspresi lukisan Mattado Jonga (Bugis: Berburu Rusa) yang terpajang di ruang-ruang tamu keluarga tertentu di Makassar dan daerah lain di Sulawesi Selatan. Lukisan kanvas itu memperlihatkan beberapa pemburu berkuda mengejar rusa dengan jerat di tangan.

Entah tahun berapa terakhir saya dapati lukisan semacam itu. Rusa pun kini hanya bisa kita temui di penangkaran. Tapi wajah-wajah lelaki pattado jonga (pemburu rusa) bersalin rupa menjadi lebih hidup dan nyata di depan mata saya.

Paras lukisan itu kini berubah menjadi Nirwan yang menggandeng teman-temannya mewujudkan harapan menyebarkan buku. Ia menjelma sebagai Ridwan Sururi yang menuntun kuda berpelana disarati kotak buku di kiri kanan pinggangnya. Juga, saya bayangkan, di satu siang menjelang sore, Ridwan Alimuddin duduk beristirahat di pantai yang diteduhi pohon rindang, tempat ia menambatkan perahu ”Pattingaloang” yang diayun ombak kiri-kanan, dan seekor sayyang patteke (kuda pembawa beban) beristirahat usai berkeliling menarik bendi yang dipenuhi lemari-lemari kecil berisi buku.[]

Sumber: makassarnolkm.com, May 27, 2015

http://makassarnolkm.com/dari-pattado-jonga-sampai-pattingalloang/

Festival Sastra MIWF Siap Layarkan ‘Perahu Pustaka’

konferensi-pers-jelang-miwf-kelima-_150602104143-922

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR — Makassar International Writers Festival (MIWF) edisi kelima akan digelar di Makassar pada 3 – 6 Juni 2015. Sejak pertama kali diadakan di tahun 2011, MIWF telah berkembang menjadi salah satu festival sastra yang senantiasa dinanti-nantikan di Indonesia.

Tahun lalu, MIWF dihadiri lebih dari 5,000 peminat sastra, pembaca dan masyarakat umum, yang sebagian besar adalah mahasiwa, pelajar dan profesional muda yang tidak hanya datang dari Makassar dan kabupaten-kabupaten lain di Sulawesi Selatan, melainkan juga yang datang dari berbagai kota lainnya.

Founder dan Direktur MIWF Lily Yulianti Farid mengatakan tahun ini sebanyak 60 penulis dan pengisi acara dari 20 negara ikut ambil bagian di MIWF. Para penulis akan berpartisipasi dalam diskusi, workshop, pembacaan karya dan pentas musik, tari dan senirupa. Kali ini, MIWF mengambil tema ‘Karaeng Pattingalloang: Knowledge and Universe’. MIWF kali ini akan menghidupkan kembali semangat cinta pada pengetahuan dan gairah untuk mencari berbagai jawaban atas berbagai fenomena di alam raya atau semesta.

“Satu hal yang baru dan unik dari MIWF 2015 adalah munculnya gagasan ‘Perahu Pustaka’ yang mulai Juni ini akan berlayar menuju pulau-pulau dan kota kota kecil di Makassar selama setahun mendatangi masyarakat sebagai perpustakaan dijalan,” ujar dia.

Perahu Pustaka mulai digagas sejak awal tahun 2015, setelah sebelumnya ada ‘Kuda Pustaka’ di Jawa Timur. Munculnya ide Perahu Pustaka karena Makassar dan daerah di Indonesia Timur adalah kota kepulauan dengan banyak daerah yang susah terjangkau oleh buku dan minat baca yang kurang. Hal ini sejalan dengan visi dari Makassar International Writers Festival.

Visi MIWF adalah terus menumbuhkan apresiasi sastra, mengkampanyekan aktivitas membaca dan menulis dan menjadikan Makassar sebagai tempat bertemunya para penulis dari berbagai kota dan negara, pembaca, dan warga lokal, khususnya publik muda Makassar.

Sumber: REPUBLIKA, Selasa, 02 Juni 2015, 10:42 WIB

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/06/02/npasyw-festival-sastra-miwf-siap-layarkan-perahu-pustaka

Makassar International Writers Festival Hadirkan Perahu Pustaka

cropped-MIWF2015-webbanner

Rabu, 03 Juni 2015 | 11:29

Makassar – Makassar International Writers Festival (MIWF) edisi kelima akan digelar di Makassar 3 – 6 Juni 2015. Sejak pertama kali diadakan pada 2011 lalu, MIWF telah berkembang menjadi salah satu festival sastra yang senantiasa dinanti-nantikan di Indonesia.

Tahun lalu, MIWF dihadiri lebih dari 5,000 peminat sastra, pembaca dan masyarakat umum, yang sebagian besar adalah mahasiwa, pelajar dan profesional muda yang tidak hanya datang dari Makassar dan kabupaten-kabupaten lain di Sulawesi Selatan, melainkan juga yang datang dari berbagai kota lainnya. Ini menunjukkan minat luar biasa pada festival ini.

“Tahun ini sebanyak 60 penulis dan pengisi acara dari 20 negara ikut ambil bagian di MIWF, yang berpartisipasi dalam diskusi, workshop, pembacaan karya dan pentas musik, tari dan senirupa,” kata founder sekaligus Direktur MIWF Lily Yulianti Farid dalam rilis yang diterima Beritasatu.com, Rabu (3/6).

“Mengambil tema: Karaeng Pattingalloang: Knowledge and Universe – tokoh intelektual dari Kerajaan Gowa Tallo di abad ke-17 – MIWF edisi kelima menghidupkan kembali semangat cinta pada pengetahuan dan gairah untuk mencari berbagai jawaban atas berbagai fenomena di alam raya atau semesta.”

Dipilihnya Karaeng Pattingalloang yang bernama lengkap I Mangadacinna Daeng Sitaba Sultan Mahmudn Karaeng Pattingalloang yang disebut sebagai ‘The Galilleo of Macassar” adalah beliau seorang mahasarjana tanpa gelar dan tittle yang sangat mencintai pengetahuan dan astronomi.

Karaeng Pattingalloang mampu berbicara dalam delapan bahasa asing, Latin, Yunani, Italia, Prancis, Belanda, Portugis, Denmark, Arab dan beberapa bahasa lainnya. Beliau memiliki perpustakaan pribadi yang menyimpan hampir semua buku pengetahuan pada zaman itu yang terbit di Eropa.

Selain itu, pada saat teleskop pertama kali ditemukan oleh Galileo di Eropa, Karaeng Pattingalloang menjadi orang pertama yang memesannya langsung dan tiba di Makassar 7 tahun setelahnya. Karena kecintaannya terhadap dunia astronomi, saat bola dunia (globe) ditemukan, Karaeng Pattingalloang memesan globe pertama dan terbesar dengan diameter 4 meter untuk dapat dikirimkan di Makassar.

Hal yang sama Pattingalloang lakukan saat mengetahui adanya gambar peta dunia, bahkan oleh pembuat peta dunia, pada sisi kanan peta tergambar sosok Karaeng Pattingalloang yang saat ini replika dari peta tersebut tersimpan di Library of Congress di Washington DC, Amerika.

“Satu hal yang baru dan unik dari MIWF 2015 adalah munculnya gagasan ‘Perahu Pustaka’ yang mulai Juni ini akan berlayar menuju pulau-pulau dan kota kota kecil di Makassar selama setahun mendatangi masyarakat sebagai perpustakaan di jalan,” imbuh Lily.

Perahu Pustaka mulai digagas sejak awal tahun 2015 menyertai adanya ‘Kuda Pustaka’ di Probolinggo, Jawa Timur gagasan dari Ahmad Nirwan Arsuka yang ingin menjawab kurangnya buku bacaan untuk akan-anak. Munculnya ide Perahu Pustaka karena Makassar dan daerah di Indonesia Timur adalah kota kepulauan dengan banyak daerah yang susah terjangkau oleh buku dan minat baca yang kurang. Hal ini sejalan dengan visi dari Makassar International Writers Festival.

“Kami memilih perahu karena kami ingin kembali membangun kapal-kapal tradisional Makassar, Phinisi yang menjadi kebanggaan masyarakat Makassar, Indonesia dan dunia. Tapi untuk Perahu Pustaka ini ukurannya lebih kecil dari Phinisi umumnya,” tutur Lily.

Visi MIWF adalah terus menumbuhkan apresiasi sastra, mengkampanyekan aktivitas membaca dan menulis dan menjadikan Makassar sebagai tempat bertemunya para penulis dari berbagai kota dan negara, pembaca, dan warga lokal, khususnya publik muda Makassar.

“Tahun ini hadir antara lain sastrawan Seno Gumira Ajidarma, Leila S. Chudori, Oka Rusmini, penulis buku perjalanan, Trinity, penyair Adrian Grima dari Malta, novelis grafis asal Belanda Peter van Dongen dan Satoshi Kitamura, Jepang, kartunis Australia Rolf Heimann, peneliti media dan jurnalistik Janet Steele dari Amerika Serikat, dan banyak lagi,” imbuh Lily.

Selain itu, MIWF mengundang enam penulis muda dari Makassar, NTT, Kalimantan dan Kendari secara khusus sebagai penulis undangan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, seluruh acara yang diadakan di MIWF bersifat gratis dan terbuka untuk umum.

“Setiap tahun kita menerbitkan berbagai buku dengan penulis luar maupun dalam negeri. Tahun ini ada 2 buku dari Leila S. Chudori, terjemahan buku Pulang (Home) dan Nadira edisi terbaru, dan masih banyak lagi peluncuran buku di MIWF nanti.” Ungkap John McGlyn dari Yayasan Lontar.

Sementara itu Rika Anggraini, General Manager Corporate Communications The Body Shop Indonesia mengatakan,”The Body Shop Indonesia telah mendukung MIWF sejak 2012 dengan mengkhususkan pada isu lingkungan, perempuan dan hak asasi manusia. The Body Shop menjadi mitra jangka panjang kami karena kesamaan visi dan misi, yakni menyebarluaskan nilai-nilai kemanusiaan, di mana menulis dan penerbitan buku bisa menjadi salah sarana efektif untuk menyuarakan misi ini.”

Sementara itu Asia Center Japan Foundation menjadi mitra utama festival dalam mempromosikan sastra Asia ke dunia dengan menghadirkan inisiatif penerjemahan Monkey Business International Literary Journal, sebuah upaya penerjemahan karya-karya sastra kontemporer Jepang, yang diterbitkan dalam bentuk jurnal, yang dipromosikan ke berbagai negara.

Dua perusahaan yang berbasis di Makassar, Bosowa Group dan Kalla Group, yang menjadi mitra MIWF sejak lima tahun terakhir, juga menunjukkan komitmen untuk terus mendukung kehadiran festival penulis ini.

Selain itu, puluhan lembaga asing dan nasional, perusahaan lokal dan komunitas serta sejumlah penerbit yang menjadi mitra MIWF, membuat kami bisa terus menyelenggarakan festival ini setiap tahun. Yang tak kalah pentingnya adalah peranan penting lebih dari 200 relawan yang menjadi tulang punggung festival.

“Selain pesta sastra, kegiatan lain yang dilakukan selama festival antara lain Sing Your Poetry, Penayangan Film Pendek ‘Karaeng Pattingalloang’ oleh sutradara dan penulis naskah asal Makassar, Literary Tour, dan lain sebagainya yang sangat menarik minat pecinta sastra Indonesia,” pungkas Lily.

Yudo Dahono/YUD

PR

Sumber: http://www.beritasatu.com/hiburan/279323-makassar-international-writers-festival-hadirkan-perahu-pustaka.html

Perahu Pustaka Tampung Ribuan Buku

FAJAR ONLINE, MAKASSAR – Perahu pustaka yang berlayar dari Mandar menuju Makassar ternyata menampung ribuan buku. Perahu berwarna putih dengan panjang 10 meter ini tiba di Makassar sejak 3 Juni lalu. Penanggung jawab Perahu Pustaka, Muhammad Ridwan, mengatakan, ada 10 orang yang berlayar dari Mandar ke Makassar membawa buku tersebut. Dari jumlah itu, lima orang di antaranya adalah penulis. (sam)

Sumber: FAJAR Online, Sabtu , 06 Juni 2015 14:32

Muhammad Ridwan Alimuddin berpose di belakang Perahu Pustaka saat berlabuh di Makassar
Muhammad Ridwan Alimuddin berpose di belakang Perahu Pustaka saat berlabuh di Makassar

http://fajar.co.id/fajaronline-sulsel/2015/06/06/perahu-pustaka-tampung-ribuan-buku.html